Only You My Angel -part 1- (by : Yolanyda)

Annyeonghaseyo, Wahyu Yoshinoyuki-imnida  *deep bow tiga kali

Saya adalah author nebeng (?) yang baru, jadi saya mohon bimbingannya, karena ini adalah ff perdana saya yang ada di T-Max Fanfiction maupun blog saya sendiri

Meskipun saya sendiri punya blog keroyokan (?) bersama dua eonni saya di ESEM FanFiction *saya magnae dunx

Tetapi saya masih merasa…errr gimana yak? Yak pokoknya gitu deeh *author gaje

Udah ah saya nggak mau kebanyakan cincong lagi

Happy reading🙂

 

Title: Only You My Angel Part 1

Author: Wahyu Yoshinoyuki

Beta Reader : Natali Tamashii

Main Casts: Kim Jun, Kim Su Hyun (OC)

Support Casts: Shin Min Chul, Park Yun Hwa, Joo Chan Yang, Park Han Bi, Baenager

Lenght: Series

Rate: Teen/PG -17

Genre: Angst-Comedy-Romance

Disclaimer: This FanFiction and Casts of OC are Mine.

 

***

Tap

Tap

Tap

Suara langkah kaki Jun memecah keheningan di lorong sekolah. Ia terpaksa berlari mengejar waktu. Ini karena terlalu lama bermanja-manja di ranjangnya.

‘Pasti karena semalam keasyikan nge-dance kkabuljima ’ pikirnya.

Padahal tadi Min Chul Hyungnim nyaris saja mengguyur Jun dengan air bekas mengepel lantai. Yun Hwa Cuma menarik selimut Jun agar mau bergerak, tapi bukannya bergerak untuk bangun justru bergerak untuk membetulkan selimutnya sehingga tidur makin pulas. Sedangkan Baenager, sopir sekaligus manager sampai kesal menungggu di dalam mobil bersama Young Boys, Chan Yang dan Han Bi. Dan syukurnya Jun mau bangun karena suara kucing tetangga. Gimana nggak bangun coba, orang kucingnya itu terjepit jendela kamar Jun sehingga menciptakan suara lengkingan seriosa tetapi mirip sirine ambulan.

‘Mengapa kelasku ada di lantai tiga sih???’ rutuk Jun dalam hati.

Jun terus saja berlari tanpa memperdulikan rambut jambulnya yang awut-awutan. Di persimpangan terakhir Jun menambah kecepatan berlarinya tetapi ia justru menabrak seseorang dan membuatnya jatuh bersama buku-buku yang dibawanya.

Jeoseonghamnida Seonbae” ujar seseorang yang ditabrak Jun, ternyata seorang yeoja.

“Ah aniya, aku yang salah. Aku tadi tak melihatmu, Jeoseonghamnida” ucap Jun sambil membereskan buku milik yeoja itu.

Andwae Seonbae, biar aku yang membereskannya sendiri” yeoja itu merebut bukunya dari tangan Jun, seperti bisa membaca pikiran Jun yang tergesa-gesa karena terlambat.

Aniya, aku yang salah, aku yang menabrakmu, aku rela terlambat lebih lama demi menebus kesalahanku padamu” Jun berkata jujur.

Yeoja itu berhenti membereskan buku-bukunya lalu mendongakkan kepalanya untuk memandang Jun. Tatkala mata mereka bertemu Jun melihat wajah cantik yang bersinar begitu indah. Seketika itu lagu ‘Blooming’ mengalun merdu di telinganya.

Cheotnune banhaesseo~

Ddak hanbeon nal seuchin sungan~

My girl

Eojjeomyeon geurohge

Sarang seuromni

Nae oraen oeroumi~

Ijeneun ggeutnalgeongabwa

Neoreul hyanghae na jogeumsik

Dagaga~

Senandung itu tetap berjalan hingga yeoja itu berdiri, Jun justru masih jongkok, kagum akan bidadari yang tadi jatuh ditubruknya.

Gomapseumnida Seonbaeyeoja itu memberinya hormat lalu membelakangi Jun. Baru selangkah, yeoja itu tiba-tiba berhenti dan menghadap ke arah Jun.

“Aa, iya dan aku juga minta maaf karena membuatmu jadi makin terlambat” dia tersenyum manis, manis sekali sampai Jun melongo.

Aigoo…hampir siang begini ada bidadari secantik itu” Jun menggelengkan kepalanya kagum dan masih dalam posisi jongkok seperti kodok bangkong yang biasa nangkring di pinggir sungai.

“Ckckck, aku tak pernah melihat yeoja secantik itu” Jun akhirnya berdiri sambil memandangi punggung yeoja itu yang seperempat berlari menyusuri koridor.

Srek

Suara itu muncul dari bawah, lebih tepatnya disebabkan oleh sepatu Jun.

“Apa ini?” Jun kembali terjongkok untuk memungut buku yang tadi untungnya hanya tergesek sepatunya.

“Kim Su Hyun” Jun membaca nama empunya buku yang terpampang di cover.

“Pasti buku milik yeoja tadi” Jun hendak pergi ke lorong yang tadi dilewati yeoja itu tapi ia membatalkannya.

Ia masukkan buku itu ke dalam tasnya kemudian kembali berlari menuju kelasnya sendiri.

“Aku janji, aku akan mengembalikan buku ini” tekad Jun.

***

Sepulang sekolah Jun terus meneliti buku milik yeoja yang diketahuinya bernama Kim Su Hyun. Buku itu berukuran sedang, berwarna biru muda dengan cover mawar yang juga berwarna senada. Sebenarnya Jun tak berani mengintip isi buku itu tetapi secara tak sengaja lembaran-lembaran itu tersibak angin nakal yang menerobos masuk lewat jendela kamarnya.

Mengapa?

Aku bisa

Mencintaimu begitu cepat Oppa?

Mencintaimu tanpa pernah bersua

Padahal hanya sebuah gambar

Dengan senyum bersinar

Yang selalu kutatap di dalam kamar

Yang selalu membuat bahagia di wajahku berbinar

Tanpa henti

Tak kenal hari

Mataku takkan jengah menatapi

Sang pangeran hati

Kini kau sudah tak jauh lagi

Karena aku datang menghampiri

Karena aku tak ingin cinta ini

Hanya tersimpan di dalam hati

Dan hanya diriku yang mengetahui

“Wow, hebatnya Su Hyun-ssi mampu membuat puisi sepanjang itu” Jun hanya menggelengkan kepalanya kagum.

“Untuk Oppaku tercinta, Kim…” Jun membaca kalimat paling pojok dari puisi itu dengan penuh gairah.

Sebenarnya hanya kalimat “untuk Oppaku tercinta” saja yang tertera, tapi Jun menambahkan namanya sendiri dalam kalimat itu. Yah, karena ia benar-benar merasa jatuh cinta pada yeoja misterius bernama Kim Su Hyun itu.

***

Di depan kelasnya yaitu kelas 3-A, Jun masih saja menatap buku itu lekat-lekat, buku milik Su Hyun yang ia sendiri tak tahu kelasnya di mana.

“Jun Hyung, apa yang ku pegang itu?” tanya Yun Hwa yang tiba-tiba njedul di sampingnya.

“Eh? Emm, gwaenchanayo” buru-buru Jun menyembunyikan buku itu ke balik punggungnya.

“Jangan-jangan itu untuk pacar Jun Hyung ya? Cieeeee” goda Yun Hwa sambil cengar-cengir, membuat wajah rapper di sampingnya ini tersipu malu.

“Ah aniya, ini milik seseorang dan aku sudah janji untuk mengembalikannya” Jun tetap saja menyembunyikan buku itu, takut bila Yun Hwa membaca nama yeoja yang baru saja dicintainya, seorang bidadari yang kini beterbangan di dalam hatinya.

“Memangnya siapa Jun Hyung?” tanya Yun Hwa agak antusias.

“Bukan siapa-si…” kalimat Jun terputus karena melihat sosok Su Hyun tepat di persimpangan terakhir saat ia menabraknya kemarin.

Jun langsung tancap gas, menghampiri bidadari yang berjalan lemah gemulai (sebenarnya pelan, tapi mata Jun terlalu mendramatisir keadaaan).

“Emmm, sillyehamnida…” ucapan Jun membuat Su Hyun langsung berhenti lalu mengalihkan pandangan padanya.

Hati Jun langsung mak duk karena ditatap olehnya, dengan tatapan serius ala empat mata.

Ye? Mwoyo?” tanya su Hyun halus.

“Emmm, igosun dangshin-e goshimnikka?” Jun mengangsurkan buku berselimut warna biru itu dengan sedikit gemetar.

Mata Su Hyun spontan membentuk bulatan besar dan memunculkan senyum yang bahagia.

Ne, kugosun naego shimnida” Su Hyun mengambil bukunya dari tangan Jun dengan mimik wajah yang membuat Jun tak mampu mengedipkan matanya sedetik pun.

Jeongmal kamsahamnida Seonbae!” Su Hyun memberi bungkukan pada Jun memakai nada suaranya yang ceria.

“Aa, banggeumyo. Buku itu terjatuh saat kemarin aku menabrakmu, untung saja tidak aku injak, hehe” Jun nyengir, tapi cengiran yang keren dong.

Su Hyun kini menundukkan kepalanya, mungkin malu karena saking bahagianya bukunya kembali.

Jigeumjjeum salmyeosi mal geolkka

Nae maeumeul i jjokjie jeo geogeone bolkka

Gadeukhan sarangui norae

Nan neorul wihae~

Bulleobolkka~

Lagu ‘Bloooming’ berdengung lagi di telinga Jun, memang benar, ia harus memulai percakapan sekarang.

“Emmm, kau anak baru ya?” tanya Jun sedikit takut-takut.

“Iya, aku baru saja pindah kemarin, saat kau menabrakku” jawab Su Hyun yang sepertinya menahan diri untuk tidak cekikikan.

Jun mengggaruk-garuk kepalanya, bukan karena belum keramas tapi masih merasa bersalah atas kejadian kemarin.

Gwaenchanayo, jarang sekali aku ditabrak orang, justru itu pengalaman yang menyenangkan” kata Su Hyun tetap dangan nada ceria.

Jun menghela nafas lega, takutnya dia akan diomeli.

“Tidak sopan kalau aku tak memperkenalan diri. Kim Su Hyun-imnida, mannage dweseo banggapseumnida” Su Hyun memberi bungkukan.

“Kim Hyung Jun-imnida, mannaseo banggapseumnida” Jun juga memperkenalkan dirinya.

“Oh iya, aku sudah tahu namamu kok, jadi tadi tak usah memeperkenalkan diri juga tidak apa-apa” ujar Jun lagi.

“Aku tidak mau, itu tidak sopan namanya, orangtuaku tidak pernah mengajariku seperti itu” Su Hyun mengggeleng.

Jun hanya membulatkan bibirnya dan mengeluarkan suara ‘o’ saja.

“Emm…Hyung Jun Seonbae? Benar kan itu namamu?” Su Hyun meyakinkan.

 “Tentu sajalah, sejak kapan aku ganti nama? Nanti aku justru dihajar orangtuaku sendiri” canda Jun membuat bidadari di sampingnya tertawa kecil.

“Aku sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi aku lupa mendengarnya di mana” jelas Su Hyun.

Sebenarnya itu membuat Jun sedikit tersinggung, masa’ Su Hyun tak mengenali dirinya? Dia kan rappernya T-Max, yang paling terkenal justru (menurut Jun sendiri), lalu masa’ tidak mengenal T-Max? Yang beranggotakan lima orang namja yang masing-masing memiliki bakat yang unik?

‘Wah keterlaluan sekali, tidak pernah menonton Music Bank apa?’ batin Jun sedikit jengkel.

“Eh kau ini adik kelasku kan?” Jun memastikan mengapa sedari tadi Su Hyun memanggilnya Seonbae.

“Iya benar, aku menempati kelas 2B” jawab Su Hyun.

‘Apa? Kelas 2-B? Itu kan juga kelas Chan Yang-a dan Han Bi-ya. Mereka itu Young Boysnya T-Max. Masa’ kau tak mengenal T-Max sedikit pun padahal ada dua membernya yang sekelas denganmu?’ batin Jun sangat gemas.

Akhirnya Jun menyerah saja, percuma kalau ia menjelaskannya pasti Su Hyun Cuma melongo doang.

“Tidak ada urusan lagi denganku kan?” Su Hyun nampaknya tergesa untuk pergi.

“Ah iya tidak ada kok, kan aku hanya ingin mengembalikan bukumu yang tertinggal kemarin itu” sahut Jun agak tak ikhlas, karena ia ingin memandang Su Hyun lebih lama.

“Mmmh geurae, Ta nyo gesseoyo Seonbae” Su Hyun pergi dengan langkah setengah berlari.

Jun hanya menghela nafas, kecewa sih karena yeoja yang disukainya tak begitu mengenal siapa dirinya.

“Yang itu ya Jun Hyung?” tanya Yun Hwa tiba-tiba.

“Iya Yun Hwa-ya, eh?” Jun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia sendiri tidak sadar kalau keceplosan.

“Cieee, nampaknya cocok kok dengan Jun Hyung, tapi sepertinya adik kelas ya?” tanya Yun Hwa lagi.

Jun masih saja menutupi mulutnya, tak mau keceplosan lagi.

“Ih pelit nih Jun Hyung, ya sudah kalau begitu. Aku juga tidak mau memaksa kok” Yun Hwa akhirnya mengalah dan pergi.

Jun tertawa sebentar lalu menyusul Yun Hwa dan merangkulnya.

“Dasar tukang ngambek, baiklah kapan-kapan akan kuceritakan padamu”.

***

Jun masuk ke kamar Young Boys dan tak lupa menyembunyikan tongkat bisbol di balik punggungnya.

“Di kelas kalian ada siswi baru ya?” Jun main nyelonong masuk, seketika Chan Yang dan Han Bi memusatkan pandangan mereka kepada Hyung-nya.

“Iya Hyung, memangnya kenapa?” Chan Yang balik tanya.

Gwaenchanayo, hanya saja…” Jun mengeluarkan tongkat bisbolnya perlahan. Jun bisa melihat Young Boys mendegut ludah mereka bebarengan di sertai mimik ketakutan.

“Beritahu aku apa saja yang dia sukai ya” Jun mendekati mereka, Chan Yang dan Han Bi mulai gemetaran.

“B..b..baik Jun Hyung, a-akan k-kami l-lakukan s-sebisa k-kami” Han Bi menyanggupi, walau ia sendiri tak yakin.

“Baguslah kalau begitu, itu namanya dongsaeng yang baik” Jun kembali menyembunyikan tongkat bisbolnya.

Chan Yang dan Han Bi mendesiskan ceracauan yang Jun tangkap secara samar, tapi ia tahu kedua dongsaengnya sebenarnya akan langsung protes begitu tongkat andalannya hilang.

“Benar tidak? Kalian janji?” Jun langsung mengarahkan benda pusakanya ke arah mereka berdua.

Urat mereka langsung menegang dan Jun sebenarnya ingin tertawa, tapi ia tahan itu semampunya.

“I-iya Jun Hyung ka-kami j-janji. Ap-papun yang k-kau mi-minta a-akan k-kami l-lakukan a-asal t-to-ngkat b-bis-b-bolmu itu t-tidak a-akan m-menyiksa k-kami” Han Bi terpaksa menyanggupi lagi, sampai-sampai ia menjadi gagap.

“Mmmh, geurae geurae. Aku tunggu informasi dari kalian ya, bye bye” Jun berlalu, sedetik kemudian kamar Young Boys jadi segaduh pasar yang sedang ramai-ramainya. Jun tidak peduli yang penting ia bisa meraih bidadarinya dengan segala cara

***.

Satu minggu kemudian

“Gemar membaca, bisa memasak kimchi, cekatan, pandai dalam setiap mata pelajaran, ramah, ceria, humoris, murah senyum, dan mawar biru adalah bunga favoritnya…” Jun membaca daftar diri Su Hyun berkali-kali di kamarnya tanpa bosan sedikit pun.

Ancaman tongkat bisbolnya memang sangat mujarab untuk menaklukkan Young Boys.

“Mungkin aku harus menerapkan hal ini selamanya, hehehe” Jun tertawa sendiri, mengingat ekspresi Chan Yang dan Han Bi yang menurutnya sangat babo.

“Apa yang kau pegang itu Jun Hyung?” tanya Yun Hwa tiba-tiba dan hampir membuat Jun menjatuhkan selembar kertas yang berharga itu.

Gwaenchanayo” Jun kembali menyembunyikan kertas itu, sama seperti yang dilakukannya kemarin.

“Issh, Jun Hyung ini menyebalkan sekali sih. Dari kemarin kau selalu menyembunyikan sesuatu dariku. Memangnya seberapa pentingnya hingga aku tidak boleh mengetahuinya?” cerocos Yun Hwa. Jun memutar matanya, dongsaeng yang paling disayanginya mulai ngambek.

“Ya ya ya, akan kuceritakan padamu. Aku sudah berjanji bukan?” Yun Hwa langsung mengangguk, kelihatannya sangat antusias mendengar cerita Jun.

“Aku sedang jatuh cinta” kata Jun malu-malu. Yun Hwa langsung menyembulkan senyumnya, senang sekaligus merasa sedikit geli terhadap sikap Hyung-nya.

“Nah benar kan dugaanku. Yeoja yang kemarin itu kan Jun Hyung? Ayo jawab aku” Yun Hwa sedikit memaksa.

“Ah kau mau tahu saja sih” Jun cengengesan, mungkin obatnya habis.

“Ah dasar Jun Hyung pelit, padaku saja masih begitu, menyebalkan” Yun Hwa mulai ngambek lagi.

“Sudahlah Yun Hwa-ya jangan bersikap begitu. Besok sepulang sekolah aku akan memperlihatkan yeoja yang aku sukai” Jun mengumbar janji.

Geurohkhunyo. Eh tahukah kau Hyung?” Yun Hwa sepertinya ingin memberitahu Jun sesuatu yang penting.

“Memangnya ada apa?” Jun jadi penasaran.

“Aku juga sedang jatuh cinta loh”  kata Yun Hwa malu-malu juga, justruan wajahnya ikutan memerah.

“Waaah, ehem eheeeem, dengan siapa tuuuuh?” goda Jun membuat wajah Yun Hwa makin merah layaknya kimchi.

“Hehehe, ada saja. Besok juga akan kutunjukkan kepadamu kok tenang saja” Yun Hwa ikutan ngobral janji.

Junbi OK” Jun membuat lambang oke di tangan kanannya.

Dia tak sabar menujukkan yeoja yang ia cintai kepada dongsaengnya, untuk membuat Yun Hwa iri padanya mungkin, karena belakangan ini Jun terkadang dibuat iri oleh couple-nya yang imut itu.

***

Sepulang sekolah Jun dan Yun Hwa sudah bersiap di gerbang, yaitu dengan berkamuflase bersama semak-semak tinggi. Bukan untuk menyambut raja Korea Selatan atau apa melainkan ingin menunjukkan pujaan hati mereka masing-masing. Tentu dengan minta ijin terlebih dahulu kepada Hyungnim mereka.

“Sebentar lagi dia akan muncul” kata Jun.

“Woow, aku tidak sabar melihat wajahnya” Yun Hwa menyahuti.

“Aku juga tidak sabar melihat yeoja yang kau sukai”.

“Hehehe, kita sama-sama tidak sabaran ya Jun Hyung”.

“Tetapi aku kan tidak seheboh kau”.

“Huh! Dasar Hyung ini”.

“Eh tapi saat kau melihat dia, kau tidak boleh menyukainya”.

“Iya iya aku tidak akan menyukainya. Aku kan sudah menyukai orang lain” Yun Hwa mengerucutkan bibirnya, dikiranya ia akan menyukai yeoja gebetan Jun.

‘Issh mianhae ya Jun Hyung, seleramu sama seleraku itu beda tahu!’ maki Yun Hwa dalam hati.

Perlahan Su Hyun melewati pintu gerbang, terlihat jelas wajahnya yang cantik itu diterpa angin sepoi-sepoi sehingga membuat anak rambutnya menari hula-hula.

“Nah itu dia!” ujar Jun dan Yun Hwa bersamaan sembari mengarahkan telunjuk mereka pada Su Hyun.

“Hah? Kau?” lalu mereka saling mengacungkan telunjuk.

“Oh nooooooooo!!!!!!!!!” singer cantik dan rapper keren itu refleks berteriak dan membuat semak-semak tinggi di dekatnya berguncang hebat.

 

With Love,

Wahyu Yoshinoyuki ^_^

 

No lurker yak, no bash jugaaa, karena aku butuh banget komenannya chingu-deul😀

Gomapta yak yang udah mau baca ff aku sama komenannya, yang nggak ngomen juga gapapa kok, nggak bakal aku tampol *sembunyiin tongkat bisbol

Something In Our Heart -final part- (by : Ratna Bewe)

Readerrrssss!!!!! Saya kangen berat! (ʃ⌣ƪ)

Selesai sudah masa hiatus saya setelah melewati skripsi dan wisuda.. berkat doa kalian saya sudah lulus *peluk readers*

dan sebagai hadiah buat kalian, saya persembahkan final part dari cerita Yoo Ra dengan Han Bi. Mianhaeyo kalau hasilnya tak sesuai harapan kalian, mianhae kalo endingnya buruk karena author masih selalu belajar dan terus belajar.Author janji untuk kedepannya bakal ngasih fanfic dengan cerita yang gak kalah seru bareng sama member T-Max beserta keluarganya, jadi jangan bosan ya untuk kasih saran dan kritik buat saya… love you :*

 

+++

“Arraseo~ mau kutemani harimu tuan putri?” Yoo Ra tersenyum dengan ucapan Han Bi padanya.

“Aku ingin berjalan pulang kerumah, mau menemaniku?”

“Tentu saja, dengan senang hati..” melihat senyum Han Bi itu membuat Yoo Ra lebih tenang meski perasaan gelisah terus ada.

“Oppa, kenapa perasaanku menjadi gelisah ya? Aku rasa ada hal yang akan terjadi.”

“Jangan ber…” ucapan Han Bi terpotong suara ponsel Yoo Ra yang keras. Yoo Ra segera mengambil ponsel yang dimasukkannya kedalam saku. Han Bi memberi isyarat untuk segera mengangkatnya, Yoo Ra mengangguk lalu mengangkatnya.

“Yoboseyo..”

“Yoboseyo, apa benar ini Han Yoo Ra-ssi?”

“Ne, maaf ini dengan siapa?”

“Ini dari kepolisian Gwangju, bus yang ditumpangi keluarga anda mengalami kecelakaan dan seluruh penumpangnya tidak ada yang selamat. Anda bisa melihat keadaannya di Rumah Sakit Manin.” Yoo Ra mematung dan tak menjawab apapun mendengar pembicaraan tadi, air matanya telah menggenang. Melihat keadaan Yoo Ra yang seperti itu, Han Bi segera memeluk Yoo Ra dan segera memapahnya untuk menepi sejenak. Tangis Yoo Ra keluar tanpa henti.

+++

Yoo Ra berjalan mengelilingi rumah itu. Rumah berlantai 2 itu dulu terasa amat sempit, dihuni oleh 5 orang yang selalu membuat suara gaduh. Tapi kini, rumah itu terasa terlalu besar untuk Han Yoo Ra, rumah itu lebih sepi daripada seharusnya.

Han Yoo Ra memandang setiap gambar yang terpampang di dinding maupun di meja sekitarnya. Senyum itu, senyum mereka yang tak akan pernah dia lihat lagi secara nyata. Perlahan, air mata itu membuncah lagi.

“Eomma, kenapa kau tak mengajakku? Kenapa? Aku ingin bersamamu, berada disisimu itu menenangkan. Apa kau tidak menyayangiku lagi? Jawab aku eomma, jawab aku!”

“Appa, kau tahu sakit ini kan? Kau begitu mengenalku kan? Tapi kenapa kau membiarkanku merasakan sakit ini sendirian? Sekarang aku minta appa membantuku, bantu aku Appa!! Appa dengar aku!”

“Jin Ra-ya, Hyo Mi-ya, kapan kalian kembali? Kalian akan membawakanku oleh-oleh? Nanti jika aku kembali ke Jeju, aku akan membawakan kalian oleh-oleh lebih banyak lagi. Kalian akan kembali bukan? Jin Ra-ya, Hyo Mi-ya, eonnie kesepian. Kembalilah.. bogoshippo..” tangis itu tak dapat terbendung lagi. Yoo Ra tertunduk sendiri dirumah itu, tenggelam dalam tangisnya. Tiba-tiba pelukan hangat menyelimutinya, tidak hanya satu tapi ada 4 pelukan hangat menghampirinya. Hye Soo, Jae In, Neulli dan Ah Rin, semuanya mencoba merasakan rasa sakit yang dirasakan Yoo Ra. Tanpa kata, kebersamaan mereka terasa lebih intim. Setiap air mata yang dikeluarkan oleh Yoo Ra, diseka dengan kasih sayang dari orang-orang disekelilingnya.

Sudah lewat 2 pekan sejak kecelakaan itu. Yoo Ra masih tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Yoo Ra masih belum kembali ke kehidupan awalnya. Pernikahanpun telah ditunda sampai waktu yang tak terbatas. Kini Yoo Ra lebih banyak menyendiri, persiapan kelulusan dikampuspun tak pernah dihadirinya. Mungkin selama 2 pekan ini dia tak pernah menatap matahari. Lingkar hitam dimatanya semakin menebal.

“Yoo Ra-ya, kau sudah makan? Eomma membuatkan sup ayam untukmu.” Ucap Han Bi sembari mempersiapkan makanan untuk Yoo Ra. Han Bi-lah yang selama ini membantu merawat Yoo Ra, dengan sabar Han Bi selalu membantu Yoo Ra. Terlintas kesedihan di matanya melihat gadis yang dicintainya menjadi hancur seperti saat ini, tapi Han Bi sudah berjanji pada dirinya bahwa dia akan terus berada di sisi Yoo Ra seperti apapun keadaannya.

Yoo Ra hanya memandang kedatangan Han Bi tanpa beralih dari atas tempat tidurnya. Han Bi masih bersyukur, Yoo Ra tak sepenuhnya kehilangan akalnya. Yoo Ra masih akan beranjak dari tempatnya namun Yoo Ra kehilangan semangat itu.

“Tidakkah kau lelah Han Yoo Ra? Kami juga bersedih sepertimu, meskipun kesedihan ini berbeda tapi bisakah kau kembali pada aktivitasmu?” Han Bi duduk disebelah Yoo Ra, memandang Yoo Ra dengan iba namun penuh kasih sayang.

“Aku lelah melihatmu seperti ini. Aku tidak lelah merawatmu atau menemanimu tapi aku lelah melihatmu yang tak memiliki semangat. Han Yoo Ra bukan gadis yang patah semangat. Han Yoo Ra hidup demi orang-orang yang menyayanginya.”

“Dan kini, mereka semua telah tiada, lalu untuk apa aku masih disini?”

“Tidakkah kau lihat bahwa aku juga menyayangimu? Tidakkah kau lihat masih ada Hye Soo, Jae In, Ah Rin, Neulli bahkan aku yakin Chan Mi, Chan Yang-ssi dan Jun hyung juga. Tidakkah kau dapat hidup demi kami?”

“Berbeda, itu semua berbeda. Kau tahu, aku merindukan pelukan eomma, nasihat appa, rengekan Jin Ra bahkan teriakan Hyo Mi. Dan kerinduan itu tak bisa digantikan dengan kehadiran kalian. Kalian berbeda.” Sahutnya lirih.

“Apakah perbedaan itu juga mengakibatkan senyum yang berbeda? Senyummu untuk mereka dan senyummu saat bersama kami dulu itu selalu sama Yoo Ra-ya. Apa kau senang melihat mereka sedih? Apa kau memang menginginkan kesedihan mereka?” pertanyaan itu membuat Yoo Ra memandang Han Bi dalam.

“Kau selalu pintar Yoo Ra-ya tapi kenapa saat ini kau menjadi bodoh. Apa kau kira mereka akan bahagia melihat keadaanmu seperti ini? Apakah kau tak ingin mewujudkan keinginan mereka? Keinginan eommoni untuk melihatmu lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Keinginan ahboji untuk melihatmu bahagia dengan pilihanmu. Bahkan tidakkah kau ingin melihat kebahagiaan Jin Ra serta Hyo Mi yang selalu muncul saat kau tertawa bersama mereka? Jawab aku Yoo Ra-ya.”

“Apa artinya semua itu jika mereka tidak disini sekarang? Percuma, semua percuma. Aku melakukan semua ini demi mereka. Aku rela menunggu beribu tahunpun jika mereka bisa kembali, tapi mereka tak akan pernah kembali oppa, tak akan pernah kembali!” teriakan Yoo Ra mengagetkan Park Han Bi. Tapi tangisan Yoo Ra yang semakin keras membuat Han Bi semakin iba melihat gadis yang dicintainya terpuruk seperti sekarang.

“Kau tahu oppa, apapun akan kulakukan demi mereka asalkan mereka ada disisiku. Bahkan aku akan menukar nyawaku demi mereka asal mereka kembali. Kembalikan mereka semua oppa, kembalikan. Mengapa mereka pergi bersama tanpa mengajakku oppa, kenapa? Apa karena eomma dan appa tidak sayang padaku hingga mereka tidak mengajakku? Apa mereka lebih menyayangi Jin Ra atau Hyo MI daripada aku? Jawab oppa, jawab aku…” pertanyaan itu diiringi dengan air mata yang tak berhenti keluar. Han Bi mendekati Yoo Ra dan memeluknya, membiarkan Yoo Ra menghabiskan air matanya.

“Yoo Ra-ya, aku yakin eommoni serta ahboji sangat menyayangimu. Mereka tahu, masih banyak mimpi yang harus kau capai. Itu mengapa mereka tidak mengajakmu. Kau harus sadar, kau masih bisa melanjutkan hidupmu sekarang.”

“Tanpa mereka? Demi apa aku harus mencapai mimpiku? Demi mereka yang telah tiada? Aku mencintai mereka, mereka penyemangat hidupku. Mereka segalanya untukku, tanpa mereka aku tak berarti apa-apa oppa.”

“Apakah kau tidak mencintaiku juga Han Yoo Ra? Tidakkah aku bisa menjadi penyemangat hidupmu? Pilihlah untuk mencintaiku juga Yoo Ra-ya karena aku rela menukar semua yang kumiliki untukmu, tidakkah kau bisa melakukan itu untukku?”

“Mencintai seseorang bukan pilihan oppa, tapi itu semua datang dari hati.” Sahut Yoo Ra lirih.

“Itu artinya kau tak mencintaiku? Tidakkah semua itu dari hatimu untukku?” Tanya Han Bi penasaran. Mereka berdua terdiam cukup lama. Park Han Bi sedikit terkejut dengan jawaban singkat Yoo Ra tadi, pikirannya tiba-tiba menjadi semakin rumit akibat hal itu.

“Jawab aku Yoo Ra-ya, apakah kau tidak mencintaiku? Lalu kenapa kau sangat tak ingin kehilanganku? Kenapa kau ingin segera menikah denganku? Tidakkah semua itu datang dari hatimu Han Yoo Ra-ssi?” terdengar nada amarah dalam perkataannya. Namun Yoo Ra hanya terdiam menunduk tanpa menjawab.

“Jika kau memang ingin pergi, pergilah. Aku tak akan melarangmu. Silahkan jika kau ingin menyusul ahboji maupun eomonni, tapi kupastikan satu hal sebelum kau melakukan itu, kau harus menjawab pertanyaanku itu. Kau harus memahami perasaanmu sendiri. Apakah itu paksaan atau semua datang dari hati. Tak kusangka, aku akan secepat ini merasa lelah menghadapimu. Kau harus mencari arti hidup untukmu sendiri Han Yoo Ra-ssi.” Han Bi segera keluar dari kamar itu, perasaannya yang berkecamuk menghadapi Yoo Ra tak bisa dibendung lagi. Dia berharap Yoo Ra bisa segera menyadari hal yang terbaik untuk dirinya.

“Gwenchana?” Tanya Hye Soo yang ternyata sudah ada dirumah itu sejak tadi. Dia bersama Kim Jun hanya menunggu di ruang tamu. Mereka tahu kekerasan Yoo Ra tak akan mudah luluh. Park Han Bi hanya menggeleng menjawab pertanyaan Hye Soo.

“Tenanglah, kekerasannya memang seperti itu. Bersabarlah.” Ucap Jun pada Han Bi yang terlihat lelah.

“Mianhae hyung, aku tak bisa mengontrol emosiku, tapi aku juga tak bisa melihatnya seperti itu terus. Hye Soo-ya, mungkin selama beberapa hari nanti aku tidak akan kemari. Tolong jaga Yoo Ra untukku sampai ku kembali.”

“Tanpa kau ucap seperti itu, tentu aku dan yang lain akan menjaga Yoo Ra. Kau juga perlu istirahat.” Ucapan Hye Soo hanya dibalas dengan senyuman kecut dari Han Bi. Lalu dia segera pamit meninggalkan Yoo Ra dengan Hye Soo maupun Kim Jun.

+++

“Hyung, Yoo Ra-ya.. Eodikaji?” ucap Han Bi tersengal-sengal. Dia segera datang ke rumah Yoo Ra setelah mendapat kabar dari Kim Jun jika Yoo Ra pergi. Beberapa hari setelah pertengkaran tersebut, Han Bi memang tidak menemui Yoo Ra, tapi setiap hari dia memantau Yoo Ra melalui Hye Soo maupun yang lainnya.

Tak seorangpun disana yang menjawab pertanyaan Han Bi. Park Han Bi berlarian dirumah tersebut sambil meneriakkan nama Han Yoo Ra, berharap bahwa Han Yoo Ra mendengarnya dan kembali padanya.

“Yoo Ra eodika?” Jae In, Ah Rin maupun Neulli hanya tertunduk diam mendengar pertanyaan Han Bi. Pelan-pelan Hye Soo mendekati Han Bi dan memberikan secarik kertas. Tanpa banyak bertanya, Han Bi segera mengambil kertas itu lalu membacanya.

 

Mianhada, semuanya jeongmal mianhada geurigo gomapta.

Hanya itu yang bisa kuucapkan sekarang.

Gomapta, sudah menjadi orang-orang yang selalu menyayangiku disaat apapun aku. Terima kasih karena telah membiarkanku menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup kalian. Banyak terima kasih dengan semua yang kalian berikan padaku.

Mianhae, aku merepotkan kalian belakangan ini dan jeongmal mianhae karena aku pergi dengan cara seperti ini. Aku ingin melarikan diri dari semua yang kumiliki sekarang.

Bukan aku tak menyayangi kalian tapi aku memilih cara ini untuk menyelesaikan hal yang sedang ku hadapi. Semua kenangan tentang appa, eomma, Jin Ra dan Hyo Mi di rumah ini terus membuatku tersiksa. Dan rumah ini sebentar lagi akan diambil oleh pihak bank, tidak mengejutkan bukan mendengar berita ini? Aku hanya tak ingin diusir dari semua kenangan rumah ini. Aku memilih untuk pergi.

Hye Soo-ya, Jae In-ah, Ah Rin-ya, Neulli-ya. Gomapta geurigo mianhada, kalian sahabat terbaik yang aku miliki. Suatu saat nanti kupastikan aku akan membayar semua yang telah kalian berikan padaku.

Jun oppa, gomawo sudah menjagaku sejak aku kecil dan menjadi oppa yang sangat baik untukku.

Park Han Bi. Gomawo, jeongmal gomawo. Kau bisa membawa kembali senyum serta kebahagiaanku yang sempat hilang. Kau membawa semuanya menjadi lebih baik. Kau memberikanku banyak pengalaman tak terlupakan. Kau terbaik yang pernah kumiliki. Maafkan aku yang menghancurkan mimpi pernikahan kita, maafkan aku tak mempercayaimu sejak awal, maafkan aku yang hanya memiliki waktu sekejap bersamamu tapi percayalah kalau aku mencintaimu dari hati. Jika memang takdir menyatukan kita, percayalah bahwa kita bisa bersama apapun yang terjadi. Park Han Bi, saranghada. Jeongmal saranghada.

Aku hanya ingin menenangkan diri dan mencari kehidupanku sendiri. Selama ini aku hidup dalam bayang-bayang bumonim dan kini tanpa mereka aku merasa tak bisa apa-apa. Eomma dan appalah yang selama ini memilihkan jalan hidup untuk kutempuh, tanpa mereka aku kosong. Selama ini demi mereka, nafasku, hidupku, senyumku, tangisku, lelahku, semua tentangku demi mereka, tanpa mereka kosong hidupku. Aku hanya berusaha mencari hidupku sendiri saat ini. Aku harap kalian bisa mengerti. Teruslah hidup bahagia dan tersenyum karena jika semuanya berkehendak kita pasti bisa bersama lagi. Mideoyo. Yaksokhae?🙂

 Han Yoo Ra.

Han Bi menggenggam kertas itu dan dengan lirih dia berkata “Yaksokhaeyo Yoo Ra-ya, nado neomu saranghae.”

 +++

 

Han Bi memandang langit yang tiba-tiba berubah mendung. Dia baru saja selesai bertemu dengan klien di sebuah café di daerah Apgujong. Dia menebarkan pandangannya kesekeliling café, tak menemukan apa yang membuatnya menarik, dia kembali menyeruput cappuccino yang dipesannya.

chilnyeoneul mannatjyo, amudo uriga ireoke
swipge ibyeolhal jureun mollatjyo
–Kyuhyun 7 Years of Love

7 Years of Love yang sedang berdendang di café itu mengingatkannya bahwa ini adalah tahun ketujuh sejak Yoo Ra pergi. Dan hingga saat ini, tak satupun kabar datang darinya. Park Han Bi tersenyum, dia mengingat bahwa dia sempat mempercayai ramalan bodoh yang menyebutkan dia akan menjadi miskin saat berusia 25 tahun, namun kini di usia 30, dia semakin sukses meneruskan bisnis orang tuanya.

Namun, tanpa ramalan itu. Dia tak akan pernah berani meminta Yoo Ra untuk menikah di pertemuan pertama mereka. Dia tak akan pernah memiliki gadis keras kepala dalam hidupnya. Dia tak akan pernah mendapatkan banyak keluarga serta sahabat baru yang sangat membantunya. Dan dia juga tak akan pernah belajar kedewasaan tanpa kehadiran Yoo Ra dalam hidupnya.

 Yoo Ra, apakah kau hidup dengan baik? Aku dan yang lainnya hidup dengan baik disini. Yun Hwa hyung dan Mi Rae noona sudah memiliki dua anak yang lucu dan imut. Satu namja dan satu yeoja. Mereka mendapat anak kembar. Aku juga akan memilikinya suatu saat nanti.

Kim Jun hyung dan Ah Rin sempat berkencan tapi yang kudengar mereka lebih nyaman dengan hubungan kakak-adik mereka, sepertimu dan Jun hyung. Mereka sempat berkencan selama 5 bulan, terlalu singkat bukan? Kudengar Ah Rin sedang dekat dengan seorang pria bernama Kim Jong Woon-ssi, sunbaeku saat high school dulu. Aku tak tahu bagaimana mereka bisa bertemu. Dan Jun hyung, sudah 4 tahun ini dia ada di Jepang dan tahun ini adalah tahun kedua pernikahannya bersama dengan Mika-chan, wanita jepang yang ditemuinya disana. Andai kau bisa datang saat itu, kau pasti akan melengkapi kebahagiaan kami. Dia mengambil tawaranku untuk mengembangkan bisnis ahboji disana. Jun hyung sangat bisa diandalkan. Tanpa bantuannya mungkin aku tidak sanggup mengembangkan perusahaan seperti sekarang.

Dan Neulli, dia seperti playgirl. Sering sekali aku mendengar dia berganti pasangan. Terkadang dia memperkenalkan prianya padaku tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Hahaha, mianhae Neulli-ya…

Kau tahu? Hye Soo dan Soo Hyun, mereka akan segera menikah. Aku terkadang iri, mengapa mereka bisa bertahan lama dalam berkencan? Jika tak ada halangan 2 bulan lagi mereka akan menikah. Akankah kau hadir di pernikahan mereka Yoo Ra-ya?

Dan Jae In… dia kembali dalam pelukan masa lalunya, siapa lagi kalo bukan dokter Shin. Hanya dokter Shin yang bisa membungkam mulut Jae In yang tidak terkontrol. Geundae, apa kau juga akan kembali ke masa lalumu Yoo Ra-ya? Masih bolehkah aku bertanya itu?

Sudah 7 tahun dan banyak hal yang terjadi tanpamu disisi kami, bogoshippo Han Yoo Ra.  Terkadang wanita-wanita sahabatmu itu menangis mengingatmu tapi lebih banyak senyum yang keluar dari kenangan bersamamu…

“Oppa!!” suara Ra Ra sedikit mengejutkan Han Bi yang asyik menulis tentang Han Yoo Ra dengan tabletnya.

“Oh, kenapa kau disini?”

“Aku sedang berbelanja… dan kau?” lanjutnya lalu duduk menemani Han Bi.

“Hanya menikmati mendung disini.”

“Jinjja?” Park Han Bi hanya menjawab dengan anggukan.

“Oppa,antar aku pulang!” ucap Ra Ra manja.

 

*Han Bi POV*

“Aniya, kau bawa mobil bukan?” aku menjawab permintaannya dengan pertanyaan.

“Oppa… How about Jenny? Kau tertarik?” aku tersenyum mendengarnya. Aku tahu bahwa sepupuku yang satu ini adalah bawahan eommoni. Aku yakin eommoni menyuruhnya untuk mengetahui perkembangan hubunganku dengan wanita pilihan eomma. Sudah setahun belakangan ini eomma gencar mengenalkanku pada semua wanita yang dianggapnya pantas untukku. Sejauh ini sudah 5 wanita, tapi tak satupun yang membuatku bergetar.

“Waeyo? Joha?” Ra Ra tersenyum kecut.

“Oppa, johahae?” tanyanya lagi semakin penasaran.

“Jogeum, wae?”

“Aku tak begitu menyukainya tapi jika oppa menyukainya, lanjut saja.” Jawabnya sambil menerawang. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya.

“Masih tak ada kabar oppa?” lanjutnya. Aku menggeleng sambil menyeruput minumku. Aku mengerti dia mengarah pada siapa.

“Dari sekian banyak wanita disekelilingmu, aku hanya menyukainya tapi aku juga membencinya karena dia pergi seperti pengecut.” Jika tidak ingat kami sudah dewasa dan aku sudah 30 tahun tentu aku akan mengacak-acak rambutnya lalu menggelitiknya hingga dia menyerah.

“Di awal kepergiannya, aku sempat linglung karena semua mimpi masa depanku berhubungan dengannya, tapi aku percaya kami akan bertemu suatu saat nanti. Dalam keadaan bagaimanapun, aku pasti bisa bertemu dengannya. Entah kami akan seperti dulu atau berubah tapi yang kuyakini adalah pertemuan kami. Dan saat kami bertemu, aku akan menunjukkan padanya bahwa aku memegang janjiku untuk hidup dengan baik.”

“Inilah salah satu alasan mengapa aku menyukainya, dia bisa merubahmu menjadi yang lebih baik oppa.”

“Geundae, kudengar besok kau akan ke Indonesia. Benarkah?” lanjut Rara tanpa ragu.

“Wae?”

“Seperti biasa, oleh-oleh.. hehe”

+++

 

Aku menggeliat di kamar hotelku. Aku baru saja tiba malam tadi di Surabaya. Kulirik jam disamping tempat tidurku, pukul 7:17. Semenjak aku mengambil alih perusahaan appa, aku sering sekali berkunjung keluar negeri. Indonesia sendiri sudah kudatangi berulang kali. Aku sedikit menguasai bahasa Indonesia, selain itu aku juga mengerti beberapa bahasa karena aku memang sering diharuskan bepergian keluar Korea.

Aku berjalan disekitar hotel mencari nasi pecel untuk menu sarapanku, aku selalu mencarinya saat datang kemari. Menurutku itu sebuah paket lengkap yang menginginkan rasa pedas namun dengan sayuran. Aku lebih suka membelinya diluar daripada harus memesannya di hotel, rasanya berbeda.

Sebuah restoran kecil yang menjadi langgananku sudah didepan mata. Aku segera memasukinya, restoran berlantai dua itu sedang tidak terlalu penuh, kulirik jam tanganku, sudah pukul 7:52. Ini sudah lewat jam sarapan jika berada di Indonesia.

“Annyeonghaseyo Mr.Park.” aku tersenyum mendengar sapaan dari salah satu pelayan disini. Beberapa dari mereka memang sudah ada yang mengenalku, meski tidak terlalu sering kemari tapi setiap datang ke Surabaya aku selalu mampir makan disini.

“Annyeong Edi. Pecel one and I want coffee, black coffee please”

“Ok” jawabnya lalu menghilang dari hadapanku. Aku memandang kearah jalan, banyak siswa-siswa High School berlarian. Disini siswa High School banyak yang menggunakan rok panjang sedangkan di Korea sepertinya rok mini adalah sebuah keharusan. Mereka berlarian, kukira mereka telat masuk sekolah. Teriakan kegirangan mereka membuatku mengingat kembali masa-masa High School dulu. Inilah yang membuatku senang berada disini, kebisingan dunia yang membuatku nyaman.

Edi datang membawa pesananku. Dia tersenyum melihatku yang menikmati keadaan disini. Aku melepas kacamataku dan membersihkannya sembari menunggu Edi menurunkan semua pesananku.

“Tuan, ups sorry mister.”

“Why?” Edi selalu mengajakku mengobrol sebelum aku memulai makanku, meski terkadang merasa risih namun aku menyukai kepribadiannya yang menyenangkan.

“I remember someone. A teacher from one of school, here.” Ucapnya dalam bahasa Inggris yang terbatas.

“Then?”

“She is Korean too, like you! She can Indonesia language. And she’s teach me little English and korea mister. Dia selalu datang dengan anak-anaknya.” Dia lalu mengangkat kedua jempolnya dan aku tersenyum, sempat terbersit bahwa itu adalah Yoo Ra, tapi akankah Yoo Ra sudah memiliki anak, entahlah.

“Can I ask something with you?” tanyaku pelan, semoga dia mengerti. Dan kulihat Edi mengangguk.

“I Love You, in Javanese language?” dia sedikit berpikir tentang pertanyaanku.

“A…Aku tresno kowe.” Aku mengeryitkan dahi dan dia menuliskan Aku Tresno Kowe di selembar kertas yang dibawanya. Aku mencoba mengejanya. “A..ku Teresno Ko..e”

“Wah, daebak! Silahkan makan tuan.” Aku tersenyum dan segera menikmati sarapanku yang telah menggodaku sejak tadi.

 

*Normal POV*

Park Han Bi telah menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu 3 hari dan dia menambah waktu liburannya 2 hari di Surabaya. Mungkin Surabaya memang panas, tapi dia tidak terganggu sedikitpun. Han Bi mengunjungi beberapa taman kota yang sedang dalam masa pembangunan di Surabaya. Park Han Bi hanya tersenyum melihat pemandangan itu, tidak seperti Seoul yang sudah tertata dan terlihat bersih, Surabaya sangat jauh dari hal seperti itu, ada beberapa sudut kotanya yang tidak terawat.

Dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 3.16, dan matahari di kota ini masih bersinar meski tak seterik saat siang datang. Sembari membaca berita online, dia duduk dan menikmati suasana kota yang ramai dengan kepulangan anak-anak sekolah. Saling berteriak dan berkejaran namun semua penuh canda tawa.

Perasaan itu menyeruak kembali, perasaan yang hadir saat Yoo Ra berada di sekitarnya. Dia segera mencari-cari, tapi dia sendiri tak yakin apa yang dicarinya. Dia tak melihat satupun sosok yang mirip dengan Yoo Ra disekitarnya. Banyak orang disekitarnya namun hatinya seakan berkata Yoo Ra sedang disini, berada satu atmosfer dengannya. Han Bi mulai menyerah, akalnya mulai berkuasa lagi. Tak mungkin dia akan bertemu dengan Yoo Ra di kota asing seperti ini, dia tahu Yoo Ra tidak terlalu suka dengan tempat yang panas dan tak mungkin Yoo Ra memilih hidup di Surabaya yang panas.

“Mommy, *??/!!///**!!????*&**$&$*@(@(#*$*$(%” Han Bi menoleh mencari kearah suara itu, kata-kata yang masih asing ditelinganya. Dia melihat seorang siswi sedang berbincang dengan seorang wanita yang sangat anggun, meski hanya melihat dari belakang tapi Han Bi yakin jika wanita itu orang yang pantas untuk dihormati. Entah mengapa hatinya berkata untuk memperhatikan dua orang itu dan saat sang siswi melihatnya, siswi itu tersenyum dan datang mendekat.

“Hello mister,” sapa siswi itu padanya, Han Bi membalas senyum siswi itu dan menyapa “Hai”.

“Are you busy?” Han Bi menggeleng dan siswi itu segera duduk dihadapannya. Han Bi segera menyimpan tabletnya dan mulai menaruh perhatiannya pada siswi High School didepannya.

“My name is Sandra, nice to meet you.”

“I’m Han Bi, Park Han Bi. Nice to meet you too. Do you need my help?”

“Oh ye.. Are you come from Korea?”

“Sure…”

“Omo! Really?” Han Bi sempat mengeryitkan dahi mendengar cara bahasanya namun dia segera mengangguk dan tersenyum.

“What do you think about my English sir?”

“My teacher ask me to use my English with foreign. She said if we can do it, we will get …” lanjut siswi itu namun segera terpotong saat seseorang memanggilnya.

“Sandra!!” Han Bi dan Sandra secara bersamaan segera menoleh kearah suara itu, kearah suara yang memotong pembicaraan mereka.

“Sorry sir. That’s my English teacher, she only give me five minutes to…” lagi-lagi Sandra tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena kali ini Park Han Bi telah berlari ke arah gurunya sedangkan gurunya hanya terpaku diam ditempatnya dengan ekspresi terkejut.

Dari kejauhan Sandra melihat orang asing yang baru saja ditemuinya itu memeluk gurunya, memeluk gurunya dengan erat hingga beberapa orang yang sedang berjalan di taman itu memperhatikan mereka.

“Yoo Ra-ya… Han Yoo Ra, akhirnya aku bertemu denganmu.” Ucap Han Bi lirih dan masih memeluk erat Yoo Ra dalam pelukannya. Sedangkan Yoo Ra masih terpaku dalam diamnya. Dia tak menyangka akan bertemu dengan Park Han Bi setelah bertahun-tahun.

“Bogoshippo”

“Nado..oppa,,” mendengar suara Yoo Ra lagi membuat Han Bi tak bisa membendung rasa rindunya selama 7 tahun ini.

“Sorry, apa aku mengganggu bu?” ucap Sandra dalam bahasa Indonesia dan dibalas gelengan oleh Yoo Ra. Yoo Ra merasa tak nyaman dengan pandangan yang dikeluarkan Sandra padanya dan Han Bi, dia segera menjelaskan. “Dia teman lamaku, kau pulanglah dulu. Besok kita bicarakan lagi tentang hal ini, mengerti?” Sandra mengangguk mengerti. Dan sebelum pergi dia pamit kepada gurunya dan Han Bi. “Annyeonghi ghaseyo mommy, Han Bi-ssi..” lalu dia segera berlalu meninggalkan Yoo Ra serta Han Bi berdua.

“Songsaem?” ucap Han Bi bertanya-tanya pada Yoo Ra, sedangkan wanita yang ditemuinya hanya tertunduk malu namun terlintas senyum di wajahnya. Ada rasa senang menggeliat dalam hatinya. Rasa senang karena bisa bertemu dengan seseorang yang pernah ada dihatinya. Seseorang yang terlihat lebih baik daripada saat dia bertemu dengannya dulu.

Inilah hari yang sangat dinantikan oleh Park Han Bi, hari dimana dia bisa bertemu dengan Yoo Ra kembali. Dan Han Bi berjanji dia tak akan melepaskan Yoo Ra kembali. Mereka menghabiskan waktu di taman itu.

****

“Oraemaneyo oppa.” Sapa Yoo Ra lagi, dia merasa sangat canggung berhadapan dengan Han Bi. Perasaannya berkecamuk, Yoo Ra kembali terkenang dengan segala yang pernah dia lewati.

“Kau baik saja Yoo Ra-ya? Kau tambah hitam, lebih kurus, banyak perubahan.”

“Aku sangat baik dan kau sangat tampan oppa. Bagaimana kabar eommoni? Ahboji baik saja?” dan semuanya seakan dimulai kembali dengan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

-Fin-

 

huaah, finally FF ini finish juga readers..🙂

Thanks buat kalian yang sudah membaca FF yang satu ini sejak setahun yang lalu *mungkin* dan akhirnya selesai sekarang.

masih butuh komen dari kalian lo, jadi banyak komen yaaa ^_^)/

Something In Our Heart -part 8- (by : Ratna Bewe)

Readers! Annyeong!

Makasih ya semuanya, berkat doa kalian, author bisa lulus tahun ini, bulan depan author juga udah wisuda~ makasih doanya.. ^_^

Sebagai hadiah, author bawain part 8 yang mungkin udah ditungguin lama banget ya? Tapi tetep semangat kan? Oke, daripada author kebanyakan ngomong langsung author kasih deh!!

*bocoran : udah mau selesai lo FFnya😥

 

+++

“Aku takut, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Pada hubungan kita. Aku takut semua itu.” Park Han Bi mendengarkan semua sedih Yoo Ra dan pada saat itu pula Yoo Ra melihat Chan Mi. Menyadari berada pada waktu yang salah Chan Mi segera memilih untuk  berbalik arah dan berjalan menjauhi mereka. Mengetahui hal itu Yoo Ra segera melepaskan pelukan Han Bi dan berusaha mengejarnya.

“Chan Mi-ya.. Chan Mi.. Joo Chan Mi berhenti!!!!” teriakan Yoo Ra terhenti saat terdengar suara yang keras. Dengan tiba-tiba dia mematung di tempatnya berdiri, Park Han Bi yang berlari ke arahnya segera memegangnya.

“Gwenchana? Kita harus kesana…” ucap Han Bi masih memegang Yoo Ra yang masih mematung memandang orang-orang yang mulai berkerumunan di seberang sana.

“Oppa, Chan Mi-ya.. Chan Mi oppa…” suara Yoo Ra mulai terdengar parau. Belum sempat Han Bi menjawab Yoo Ra berlari kearah kerumunan itu, Han Bi segera menyusulnya.

Han Yoo Ra segera menyeruak di  kerumunan orang-orang tersebut. Joo Chan Mi tergeletak di jalan tersebut.“Joo Chan Mi! Ireonaaaa! Ireonaa Chan Mi-ya!!” teriak Yoo Ra sambil memeluk tubuh Chan Mi yang bersimbah darah setelah sebuah mobil menabraknya. Joo Chan Mi yang hendak menghindar dari Yoo Ra sedang menggunakan headphonenya hingga dia tidak mendengarkan semua teriakan orang yang mengingatkannya. Park Han Bi segera menggotong tubuh Chan Mi ke dalam mobilnya dan bersama dengan Yoo Ra, Chan Mi segera dilarikan ke rumah sakit.

Yoo Ra termenung diam dalam duduknya sedangkan Han Bi hanya mengenggam tangan Yoo Ra dengan kuat dan merangkulnya. Berusaha untuk membiarkan beban yang menjalar di tubuh calon istrinya menyalur padanya.

“Aku sudah menghubungi Yun Hwa hyung dan aku yakin sebentar lagi Joo Chan Yang dan keluarganya akan sampai disini. Kau tak apa?” jelas Han Bi pelan. Yoo Ra memandang Han Bi dengan lesu dan tangis yang tertahan.

“Ini semua salahku oppa, salahku…” tangis itu tak dapat dibendung lagi. Han Yoo Ra merasa bersalah karena dialah Chan Mi berusaha menghindar. Jika Chan Mi tak menghindari kehadirannya maka semua ini tidak akan terjadi pikiran itulah yang sedang ada dipikirannya. Han Bi menyadari ada yang salah dalam diri Yoo Ra, dia segera mengeratkan rangkulannya dan membelainya pelan.

“Chan Mi ada dimana? Apa yang terjadi padanya?” suara wanita itu membuat Yoo Ra segera menoleh dan melepaskan pelukan Han Bi dan beralih memeluk wanita itu.

“Jwoseunghamnida eommoni, semua ini kesalahanku. Andai saja..”

“Dimana Chan Mi? Bagaimana keadaannya?” Tanya wanita itu, ibunya Chan Mi, tanpa mempedulikan semua perkataan Yoo Ra. Bertepatan dengan semua pertanyaan itu, dokter keluar dari ruang perawatan.

“Pasien sudah melewati masa kritisnya. Dia mengalami patah tulang pada kakinya tapi tidak terlalu parah, dalam waktu 2 bulan saya yakin patah tulangnya itu akan segera sembuh dan untungnya dia segera dibawa kesini jadi tidak banyak kehilangan darah dan kalian bisa tenang, pasien sudah diberi penenang agar istirahat.” Ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang dimana Chan Mi dirawat.

“Dokter, kapan saya bisa menjenguknya? Saya ibunya.” Ucap wanita itu lagi.

“Sekitar 2 jam lagi, anda bisa menemuinya saat itu. Kami akan memindahnya ke ruang inap.” Jelas dokter itu. Hal itu membuat raut wanita tua itu terlihat lebih tenang, namun Yoo Ra tetap cemas.

“Yoo Ra-ssi….” Wanita itu memanggil Yoo Ra agar mendekat padanya. Yoo Ra yang masih ketakutan mendekati wanita itu dengan segan.

“Ne eommoni… jwoseunghamnida eommoni… ini semua…..”

“Gomawo Yoo Ra-ya, gomawo Yoo Ra-ya… kalau tak ada kamu pasti hal lebih buruk akan terjadi pada Chan Mi. Gomawo, jeongmal gomawoyo..” ucap wanita itu sembari memeluk Yoo Ra hingga Yoo Ra tak bisa menyelesaikan semua perkataan. Yoo Ra menangis dalam pelukan wanita yang sudah ia anggap sebagai keluarga itu. Dia menangis karena semua kesalahan yang dia pikirkan.

***

 

Yoo Ra membuka matanya yang terasa amat berat, merasakan kepalanya yang terasa sangat berat. Dan dengan sekejap dia mengingat apa yang terjadi semalam, dengan tiba-tiba air matanya kembali mengalir.

“Mianhae.. jeongmal mianheyo..” lirihnya. Tangisnya terhenti saat seseorang membuka pintu kamar.

“Sudah bangun?” suara lembut Han Bi membuat Yoo Ra terasa lebih tenang. Han Bi duduk disebelahnya dan menggenggam tangannya dengan erat. Tatapan Han Bi yang sayu memandang hangat Yoo Ra yang masih terlihat lelah dan bersalah.

“Oppa….” Hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Yoo Ra sembari memeluk erat Han Bi.

“Gwenchana Yoo Ra-ya, gwenchana… semuanya akan baik-baik saja Han Yoo Ra… semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Han Bi dengan suara yang lirih berusaha menenangkan Yoo Ra.

Tak lama, pintu kamar terbuka lagi dan Joo Chan Yang masuk ke dalam ruangan itu. Yoo Ra memandang Chan Yang dengan takut, dia semakin menggenggam erat tangan Han Bi.

“Yoo Ra-ya… jangan takut.” Ucap Han Bi tenang. Yoo Ra hanya memandang kearah Han Bi yang berusaha mengeluarkan senyum untuk menenangkan Yoo Ra.

“Tenanglah, aku yang mengundangnya kemari… kamu sayang sama Chan Mi kan?” Tanya Han Bi yang memulai semuanya. Sedangkan Joo Chan Yang hanya diam berdiri dibelakang Han Bi memandang semua yang terjadi didepannya. Yoo Ra memandang bingung pada Han Bi tapi dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Han Bi.

“Chan Mi sakit dan hanya satu yang bisa mengobatinya. Meski sebenarnya obat itu tidak bisa ampuh mengobati penyakitnya tapi hanya obat itu yang bisa mengurangi rasa sakit seumur hidupnya.” Yoo Ra masih tak mengerti dengan ucapan Han Bi. Dia hanya diam, memandang Han Bi yang mengeluarkan wajah sabarnya.

“Maukah kau membantunya mengurangi sakit yang dideritanya?” Tanya Han Bi dengan sungguh-sungguh. Yoo Ra hanya bisa mengangguk mendengar semua hal yang dikatakan Han Bi. Dia merasa bahwa Chan Mi juga bagian dari hidupnya yang penting, yang tidak bisa dipisahkan. Dia sangat ingin membantu Chan Mi dan dia juga masih ingin menebus kesalahannya yang menyebabkan Chan Mi mengalami kecelakaan itu.

“Aku senang mendengarnya…” ucap Han Bi sambil tersenyum.

“Chan Yang-ssi kemarilah. Chan Mi akan sedikit terobati jika Joo Chan Yang dan Han Yoo Ra bersatu. Aku tahu kalau kau akan melakukan apapun demi orang-orang yang kau sayangi bahagia. Tapi aku juga tahu bahwa separuh kebahagiaanmu masih ada pada Joo Chan Yang. Dan aku tahu kau menyayangiku dan ingin aku bahgaia karena itu aku memohon padamu untuk membahagiakanku dengan mengikuti permintaanku yang satu ini. Jika kau melakukan ini kau akan bisa membahagiakanku Yoo Ra-ya..” mendengar kata-kata dari Park Han Bi membuat Yoo Ra tercengang. Apalagi saat Han Bi menyatukan tangannya dangan tangan Chan Yang. Dadanya terasa sesak. Nafasnya tidak teratur dan air matanya tak henti-henti keluar.

Sebelah tangannya memegang erat tangan Han Bi sedangkan tangan satunya digenggam oleh Joo Chan Yang. Dia memandang Han Bi dengan penuh memohon dan seperti meminta penjelasan atas semua ini namun Han Bi hanya menggeleng dan tersenyum. Air matanya terus menerus keluar tak terkendali saat Han Bi mencoba melepaskan tangannya dari Yoo Ra dengan pelan, Yoo Ra berusaha menarik tangannya dari genggaman Chan Yang namun tak bisa sedangkan tangan lainnya terus berusaha menggenggam Han Bi dengan erat namun Han Bi terus berusaha melepasnya dengan pelan.

“Berbahagialah Yoo Ra-yaa, berbahagialah… Saranghae Han Yoo Ra, jeongmal saranghae~” ucap Han Bi terakhir kalinya saat Han Bi sukses melepaskan genggaman tangan Yoo Ra dari dirinya dan dirinya segera berlalu dibalik pintu tersebut.

Han Yoo Ra mulai menyadari semuanya, namun tak ada daya untuk mengejar Han Bi dan pintu itu terus menerus terlihat makin menjauh dan jauh dari pandangannya.

“OPPPAAAAAA…………. OPPPAAAAAAAAAAAAAAAAAA JEEEEEEBBBAAAALLLLLLL… JEBAL OPPAAAAAAA!!!!” teriaknya sekuat tenaga.

“OPPPAAA…. OPPPAAA … KAJIMAA OPPA.. JEBAL.. SARANGHAE OPPA, JEOGMAL SARANGHAE….” Teriaknya terus sambil menangis tanpa henti.

“Yoo Ra-ya.. Yoo Ra-ya…” suara yang awalnya terdengar amat jauh itu kini mulai mendekatinya. Yoo Ra merasa sendiri. Kepalanya semakin pening merasa semuanya dan seakan semuanya gelap.

“Yoo Ra-ya… Yoo Ra-ya…” suara itu lagi terdengar dalam gelap yang dihadapi Yoo Ra.

“Yoo Ra-ya… Yoo Ra-ya…” mulai terlihat secercah sinar terang yang terus berusaha digapai oleh Yoo Ra. Ia ingin keluar dari kegelapan itu. Secara perlahan terlihat warna putih, Yoo Ra mencoba melihat sekeliling dan dia menemukan bahwa dia tidak berada dikamarnya.

“Yoo Ra-ya.. gwenchana?” suara itu lagi, dan Yoo Ra segera melihat sosok yang tak ingin dia lepaskan saat ini. Yoo Ra segera memeluk sosok didepannya itu dengan erat.

“Oppa, oppa… kajimaa..” suara lirih Yoo ra bercampur tangisnya membuat Park Han Bi mematung dalam pelukan Yoo Ra yang semakin lama semakin erat.

“Oppa, jangan pernah tinggalkan aku oppa…” tangis Yoo ra semakin pecah sembari memeluk Han Bi. Han Bi segera menyadari keadaannya, dia segera membalas pelukan Yoo Ra dan membelainya dengan lembut.

“Gwenchana Yoo Ra-ya, aku akan disini tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Han Bi dengan penuh makna.

“Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji itu.” Ucap Han Bi dengan memandang Yoo Ra dan menghapus airmatanya.

“Aku takut oppa, aku takut kau meninggalkanku seperti tadi. Aku tidak ingin kau meninggalkanku.”

“Tadi?? Tadi kau tertidur dan tiba-tiba kau berteriak oppa jebal, jebal, kajima, saranghae oppa. Makanya aku segera datang kemari.” Ucap Han Bi sembari terus memeluk Yoo Ra dan membelainya dengan lembut.

“Kau tadi mimpi apa memangnya??” lanjut Han Bi penasaran, namun Yoo Ra hanya menggeleng dan memeluk erat Park Han Bi. Han Yoo Ra tak pernah ingin mimpi buruknya itu menjadi kenyataan.

“Oppa, eodiya?” setelah beberapa mereka terdiam berdua.

“Kau kelelahan dan tiba-tiba pingsan saat sedang menemani Chan Mi tadi. Dan aku meminta dokter juga merawatmu disini. Kau benar-benar kelelahan Yoo Ra-ya, kau harus banyak istirahat. Tak hanya badanmu yang lelah, tapi juga pikiranmu. Beristirahatlah yang banyak Yoo Ra-ya jangan sampai kau sakit juga.” Jelas Han Bi dengan pelan.

“Oppa, bagaimana keadaan Chan Mi?”

“Dia masih belum sadar, tapi dokter bisa memastikan keadaannya baik-baik saja….” pintu ruangan itu terbuka membuat Han Bi dan Yoo Ra menoleh kearah pintu kamar itu.

“Yoo Raaa! Syukurlah kalau kau baik-baik saja.” Teriak Jae In dengan cemas. Ah Rin, Hye Soo dan Neulli muncul di belakangnya. Mendengar kabar Yoo Ra pingsan, mereka berempat segera datang ke rumah sakit bersamaan. Yoo Ra tersenyum melihat kehadiran sahabatnya.

“Oppa menjagaku dengan baik.” Sahut Yoo Ra sembari menggenggam erat tangan Han Bi. Dia benar-benar takut mimpi buruknya menjadi nyata, dia tidak ingin kehilangan Han Bi.

“Bagaimana keadaan Chan Mi?” sela Neulli dalam tawa mereka.

“Masih belum sadar tapi kata dokter dia sudah keluar dari masa kritis.” Jelas Han Bi.

“Selamat Pagi semuanya…. Maaf menggang…” suara dokter yang baru saja datang itu tercekat melihat Yoo ra dan teman-temannya.

“Ada apa dok?”

“Shin……..” tiba-tiba Jae In bersuara lirih.

“Park Jae In???” dokter itu terkejut sambil terus memandang Jae In yang ada disana. Neulli menyikut Jae In lalu berbisik “Kau mengenalnya?”

“Shin Min Chul-ssi, lama tak bertemu.” Ucap Jae In dengan kaku.

“Oh ye… Jae In-ah.. Tak kukira kau menjadi secantik ini sekarang.” Ucap dokter Shin tanpa malu-malu. Sedangkan yang lain memandang mereka dengan bingung, mengetahui hal tersebut dokter Shin tersenyum.

“Jae In dulu tetanggaku sebelum aku pindah ke Jepang. Dan saat 5 tahun lalu aku kembali lagi kemari ternyata keluarganya sudah pindah.” Jelas dokter Shin yang berusaha menghilangkan rasa penasaran di antara orang-orang disana.

“Jae In-ah, datanglah ke rumah. Eomma merindukanmu, dia masih mengharapkanmu sebagai menantunya.” Lanjut dokter muda itu membuat Jae In tersipu malu. Sedangkan sahabatnya yang berada disana seperti paduan suara yang bergantian berdehem melihat tingkah laku Jae In yang biasanya kacau menjadi pendiam.

Dokter Shin kembali pada tugasnya untuk memeriksa Yoo Ra. Sembari terus bercanda dan mengenang masa kecilnya bersama Jae In. Sedangkan Jae In hanya tertunduk diam dan tak berdaya saat Shin Min Chul membongkar semua perilakunya masa kecil.

Setelah semua orang pergi dari kamar Yoo Ra hanya tertinggal Han Bi dan Yoo Ra diruangan itu. Han Bi memandang Yoo Ra yang melamun sembari memandang kea rah jendela.

“Gwenchana Yoo Ra-ya??” Yoo Ra menoleh kea rah Han Bi dan Han Bi melihat butiran air mata menggenang di wajahnya. Han Bi menghapusnya dengan lembut sembari tersenyum.

“Jangan terlalu keras berpikir, beritirahatlah. Ini semua bukan salahmu, dan aku berjanji tak akan meninggalkanmu sendirian Yoo Ra-ya.. Yakshokhae…” ucap Han Bi dengan sabar. Kata-kata itu semakin membuat Yoo Ra tak dapat menahan air matanya lagi. Han Bi memeluk Yoo Ra dan mereka berdua tenggelam dalam suara tangis Yoo Ra yang semakin tak tertahankan.

“Kau tidak jadi menjenguk Yoo Ra?” Tanya seorang wanita pada seorang pria yang berdiri membelakangi pintu kamar Yoo Ra. Pria itu hanya menggeleng.

“Kita tak boleh mengganggunya noona, aku yakin Yoo Ra butuh istirahat. Dia masih shock dengan semuanya, lagipula sudah ada yang menemaninya disana.” Jawab Chan Yang dengan lemas lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan dimana Yoo Ra dirawat. Joo Mi Rae hanya memandang adik sepupunya dengan rasa kasihan. Dia tahu semua yang terjadi antara mereka berdua sejak awal dan kini dia tak bisa mengusahakan apapun untuk membantu sepupunya itu.

*Han Yoo Ra POV*

 

Jam sudah menunjukkan pukul 21.49 tapi aku tak ingin tertidur. Aku tak ingin mimpi yang mendatangiku tadi hadir kembali. Aku memang ingin membantu Chan Mi tapi aku tak ingin kehilangan Han Bi. Ruangan tempatku dirawat sepi, aku menyuruh Han Bi oppa untuk pulang dan beristirahat begitu juga dengan keluargaku maupun sahabat-sahabatku. Aku bisa memastikan kepada mereka bahwa aku lebih baik, tapi tidak lebih baik untuk hatiku.

Aku berjalan keluar dari kamarku dan menuju kamar Chan Mi, aku ingin mengunjunginya. Kulihat Chan Mi eomma tertidur di ruang tunggu depan kamarnya. Dengan hati-hati, aku membuka pintu kamar Chan Mi dan kulihat dia terbaring di atas tempat tidurnya. Dia masih belum sadar, kudengar dari dokter Shin, seharusnya Chan Mi sudah sadar tapi seakan-akan dirinya tidak ingin sadar. Dia terus memilih tidur. Aku duduk disebelahnya dan membetulkan letak rambutnya yang menutupi matanya, tanpa sadar wajahku mulai basah lagi dengan air mataku.

“Chan Mi-ya.. mianhae.. mianheyo.. jeongmal mianhaeyo…”

“Seharusnya aku tak menutupi apapun padamu, seharusnya aku menceritakan segalanya padamu… mianhae Chan Mi-ya..”

“Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Meski pada awalnya aku tidak menyukaimu karena sikapmu yang urakan tapi semakin lama aku tahu bahwa hatimu yang baik itu akan berubah lebih sempurna. Chan Yang pernah bilang kalau kau rapuh dan aku ingin menjadi salah satu penyangga yang selalu bisa menguatkanmu serta kau andalkan tapi ternyata aku menjadi lebih rapuh dan lebih lemah berada di sisi Chan Yang. Rasa sayangku pada Chan Yang dan sikap Chan Yang padaku membuatku semakin terluka…..”

“…dan mianhae kalau ternyata hal ini juga ikut melukaimu Chan Mi-ya.. aku sungguh tak ingin melukaimu tapi aku sudah membuat keputusan. Bersama Han Bi oppa, aku ingin memulai segalanya dari awal. Aku ingin kau mengijinkan aku bahagia Chan Mi-ya…” lanjutku dengan pelan dan terisak.

“Aku tak ingin kehilanganmu maupun kehilangan Han Bi oppa. Aku sudah pernah merasa kehilangan Chan Yang dan hal itu hampir membuatku menjadi mayat hidup, tolong aku untuk menemukan kebahagianku. Mianhae jika aku menjadi sangat egois saat ini, tapi aku tak ingin kehilangan siapapun lagi saat aku baru memulainya dari awal. Tidak kau, tidak juga Han Bi oppa. Aku sudah mulai kehilangan sayangku pada Chan Yang dan aku tak ingin kehilangan yang lainnya. Aku harap kau bisa mengerti semuanya Chan Mi-ya…” aku bahkan tidak bisa berhenti menangis, aku terus terisak disamping Chan Mi yang tertidur. Aku tak tahu, Chan Mi mendengarnya atau tidak tapi itu semua hal yang ingin kuucapkan padanya sejak sebelum kecelakaan itu.

——————————————————————————————————–

“Yoo Ra-ya, undanganmu sudah diantar kemari kemarin. Kapan kau akan mulai menyebarkannya?” aku hanya memandang eomma, aku bahkan menyembunyikan semuanya dari keluargaku, mereka hanya tahu bahwa aku kelelahan hingga harus dirawat di rumah sakit kemarin.

“Kau masih tidak enak badan? Sepertinya kau banyak pikiran Yoo Ra-ya..”

“Gwenchanayo eomma, aku baik-baik saja. Mungkin besok aku akan menyebarnya bersama yang lain. Eomma tenang saja.”

“Aku tidak melihat Han Bi beberapa hari ini, kemana dia?”

“Oppa sedang sibuk mengurus keperluan yang lain eomma.”

“Apakah ada yang perlu eomma bantu lagi?” aku menggeleng, memandang eomma yang terlihat amat lelah membuatku tak tega untuk menceritakan semuanya. Aku tak ingin menambah pikiran eomma.

“Oia, besok eomma dan appa ke Gwangju untuk memberi tahu pamanmu tentang pernikahanmu.”

“Kenapa tak lewat telepon saja mma?”

“Eomma, appa dan adik-adikmu sudah lama tak berkunjung kesana. Lagipula merekalah keluarga yang paling dekat dengan kita. Eomma akan kembali kok, tenang saja.” Eomma menjawab dengan senyum paling indah yang pernah kulihat. Seketika itu pula aku segera memeluknya. Aku sangat merindukan pelukan hangat eomma. Aku memeluknya sangat erat.

“Waeyo Yoo Ra? Kau akan menikah sebentar lagi. Jadilah istri yang baik untuk Han Bi. Eomma percaya dia akan menjagamu saat eomma tak ada.” Aku menangis dalam pelukan hangatnya, rasanya aku ingin terus memeluknya dan tak melepaskannya.

Setelah mengobrol beberapa saat dengan eomma aku bersiap untuk tidur namun aku sempat memandang tumpukan undangan yang berada di hadapanku. Air mataku mengalir lagi. Aku tak ingin menunda pernikahan lagi, tapi sepertinya keadaan tidak mendukungku sedikitpun.

============

 

“Eonnieeeeeeeee……!” teriak Chan Mi melihat kehadiranku di kamar inapnya.

“Kau sudah memafkanku Chan Mi-ah?”

“Kau salah apa? Jika aku sudah sembuh kau harus menemaniku berbelanja dan jajan ya.. aku bosan dengan makanan dan suasana di rumah sakit ini. Membosankan.” Chan Mi berusaha ceria dan itu membuatku sedikit merasa lebih baik.

“Apakah sahabat-sahabatmu tak ingin menemuiku? Mana Jae In, Hye Soo dan yang lain?”

“ya! Kau masih sakit, kenapa bicaramu tidak sopan seperti itu? Dasar Bocah!”

“Aku bukan bocah, kau yang bocah. Sudah seumuran begini tapi masih dikira High School. Dasar!”

“Ya! Kau tak akan pernah sembuh dari penyakitmu yang satu ini.”

“Mwo? Mworago? Hahahahaha, never!!” melihat tawa Chan Mi dan suaranya yang begitu bersemangat membuatku sedikit lebih bahagia meski masih ada yang mengganjal dalam hatiku.

“Eonnie, kalau aku sudah keluar dari sini dan kakiku sudah lebih baik aku berjanji akan mentraktirmu samgyupsal kesukaanku.” Aku mengangguk tersenyum mendengar permintaan Chan Mi.

Keluar dari ruangan Chan Mi, aku terduduk lelah di depan ruang inapnya. Aku menghela nafas, entah mengapa tiba-tiba perasaanku menjadi berkecamuk tiada henti. Rasanya aku ingin menangis tapi aku tak tahu apa yang harus ditangisi karena aku seharusnya senang melihat keadaan Chan Mi yang semakin membaik. Aku merasa amat lelah, benar-benar membuatku gelisah.

“Gomawo” aku menoleh dan menemukan Chan Yang sudah duduk disebelahku sembari tertunduk.

“Gomawo dengan yang kau beri selama ini untukku, adikku dan keluargaku. Mianhaeyo kalau selama ini aku menyusahkanmu. Aku be….”

“Sudahlah, yang lalu biarkan saja menjadi masa lalu. Masa depan masih luas bukan?” aku memotong semua perkataannya. Semenjak ada Park Han Bi disisiku, aku merasa kuat dan bisa untuk terus melanjutkan hidup, meski sebelumnya aku merasa sangat hancur.

“Oia, Chukkae, aku harap kau akan bahagia dengan Park Han Bi.” Aku tersenyum memandangnya. Tak lama aku pamit dari hadapannya. Perasaanku semakin berkecamuk dan aku tak mengerti mengapa hal ini terjadi. Aku ingin segera kembali ke rumah meski aku tahu tak seorangpun ada dirumah.

“Yoo Ra…” aku menoleh ke arah suara itu. Han Bi mengejarku yang baru saja keluar dari rumah sakit. Aku senang melihatnya.

“Oppa, kenapa berlari? Aku akan ada disisimu terus kok.”

“Arraseo~ mau kutemani harimu tuan putri?”

“Boleh, lagipula aku ingin berjalan pulang kerumah.”

“Tentu saja, dengan senang hati..” melihat senyumnya itu membuatku lebih tenang meski perasaan gelisah itu terus ada.

“Oppa, kenapa perasaanku menjadi gelisah ya? Aku rasa ada hal yang akan terjadi.”

“Jangan ber…” ucapan Han Bi terpotong suara ponselku yang keras. Aku segera mengambil ponsel yang kumasukkan kedalam saku dan kulihat nomor yang tak kukenal. Han Bi memberi isyarat untuk segera mengangkatnya, aku mengangguk dan mengangkatnya.

“Yoboseyo..”

“Yoboseyo, apa benar ini Han Yoo Ra-ssi?”

“Ne, maaf ini dengan siapa?”

“…..”

 

-To Be Continued-

 

Kira-kira siapa ya yang telepon?

Haduh, gak ngebayangin ternayat FF ini bakal segera tamat. doain ya semuanya semoga part 9nya cepet release! Oia, Jangan Lupa komennya karena itu sangat membangun buat author~

Annyeong *wave* \(^_^)/

 

My Love My Destiny -part 3- (by : Uly Shin)

Tadaaaaaaa. . i’m back!!! Mian ya jeongmal mianhae author ngilang. Part 3 nya kelamaan banget ya -.- kuliah nya ga bisa di ajak kompromi sih kemarin jadi harap maklum ya readers tersayang.

yang agak-agak lupa gimana part 2 atau malah belum baca klik disini deh🙂

Semoga part 3 ini ga mengecewakan. Check this out deh ya!!

NB : kritik dan saran tetap di butuhkan, author masih belajar hehehe

—————————————————————————————————————————————————————-

“Rumah sakit?? UGD???? Apa yang terjadi oppa??? Kau baik-baik saja kan???” teriakku. Aku bisa merasakan ada hal serius kali ini. Tentu saja, tidak mungkin tidak serius jika berhubungan dengan ruang UGD. Apalagi Hanbi oppa terdengar sangat berhati-hati saat bicara.

“Ssssssttttt…. Jangan keras-keras. Nanti ada yang denger.”

“Aku sedang sendirian di rumah jadi tak perlu khawatir. Sekarang jelaskan padaku ada apa sebenarnya.”

“Ehmm… aku… aku….” Kalimatnya terhenti. Aku mendengarnya menghela nafas berat. Perasaanku makin tak enak.

“Oppa” ujarku kepadanya sekali lagi mencoba mendapat jawaban yang kutunggu.

“Aku… baru saja menabrak seseorang.”

***

_Park Jae In P.O.V_

Aku segera meluncur ke rumah sakit yang disebutkan Hanbi oppa sesaat setelah dia menutup teleponnya. “Hahh…. apalagii yang sekarang dia buat?? Kebut-kebutan di jalan?? Lagi??” aku menggerutu panjang pendek selagi aku menyetir menuju rumah sakit.

“Dasarr  Hanbi oppa babo!!! Aku sudah sering mengingatkannya agar jangan suka kebut-kebutan dengan motor gedenya itu tapi sekarang dia malah membuat masalah.”  Aku benar-benar mengkhawatirkannya kali ini. Keringat dinginku tak terbendung menyertai jantungku yang juga memburu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ahhh tidak tidak. Aku segera menepis pikiran burukku. Akupun semakin memacu laju mobilku membelah kepadatan jalanan kota Seoul siang itu.

Aku langsung berlari menuju ruang UGD sesampaiku di rumah sakit. Di sana, di depan pintu salah satu ruangan kulihat Hanbi oppa tengah berdiri mondar-mandir. Dia tampak kalut. Dia yang biasanya selalu tampak santai dan ceria kiini tampak begitu resah. Meski begitu rasa lega menyeruak kala melihatnya baik-baik saja.

Aku baru saja hendak menghampirinya ketika tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang UGD dan berbicara dengan Hanbi oppa. Entah apa yang dikatakan dokter laki-laki itu tapi yang jelas aku yakin itu adalah hal yang baik karena aku melihat sedikit kelegaan dari wajah hanbi oppa kini.

“Hanbi oppa!!” aku langsung menghampirinya ketika dokter itu beranjak meninggalkannya.

“Jae in-ah!! Akhirnya kau datang juga.” Hanbi oppa langsung memelukku erat. Bisa kurasakan ada kelegaan dalam pelukan itu. Pelukan yang begitu dalam.

“Oppa … apa yang terjadi??” aku melepaskan pelukannya dan menariknya ke sebuah bangku yang ada di depan kamar UGD.

“Entahlah aku juga tidak tahu. Kejadiannya begitu cepat, tiba-tiba saja ada seorang pria melintas di depan motorku dan akhirnya tertabrak olehku. Sungguh aku tidak sengaja melakukannya.” Hanbi oppa masih tampak panik saat menjelaskan kronologisnya padaku. Kekhawatiran belum sepenuhnya sirna dari wajah tampannya.

“Lalu bagaimana keadaan laki-laki itu? Apakah oppa sudah melihatnya?”

“Belum, tapi dokter baru saja bilang kalau dia tidak apa-apa. Tidak ada luka dalam atau luka serius. Hanya saja kepalanya mengalami gegar otak ringan karena benturan. Dokter juga bilang kalau dia sudah sadar.” Terang Hanbi oppa. Wajah pucat itu tampak menyimpan beban meski sudah tampak lebih baik dari sebelumnya. Ingin rasanya aku berbagi beban itu andai bisa.

“Sincheo??? Syukurlah kalau begitu. Ayo kita kita lihat keadaannya oppa.” Aku bangkit sembari menarik tangan kanan Hanbi oppa. Sesaat tampak ada keraguan saat aku mengajaknya masuk, tapi setelah aku meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja akhirnya dia mau juga.

“Annyeo..” tenggorokanku tercekat seketika saat melihat siapa yang sedang terbaring di atas ranjang di hadapanku. Bahkan aku sampai tidak sadar bahwa kini aku masih berada di ambang pintu yang baru setengah terbuka.

“Min Chul-ssi???” sebuah nama spontan meluncur dari bibirku. Sontak sang empunya nama pun langsung beringsut menoleh ke arahku.

“Jae In-ah???” ujarnya kini tak kalah kaget. “sedang apa kau di sini?” ujarnya lagi. Dia tampak keheranan melihat keberadaanku di sini.

Aku mendekat dan menghampirinya dengan Hanbi oppa yang sedari tadi mengekoriku.

“Ya!!Apakah kau baik-baik saja?” aku melihat perban melingkar di kepalanya. Dan lebam di beberapa bagian wajah dan tubuhnya. Aku tidak yakin kalau dia baik-baik saja. Pertanyaan bodoh. pikirku dalam hati.

“Ne, aku baik-baik saja. Hanya saja ini sedikit sakit.”  Dia menunjuk ke arah kepalanya yang diperban. “Heyy kau belum menjawab pertanyaanku, sedang apa di sini?” tanyanya sekali lagi.

“Eeee…. aku di sini karena dia.” Aku menunjuk ke arah Hanbi oppa yang berada tepat di sebelahku. Aku diam sejenak sebelum meneruskan kalimatku. Mencoba mengumpulkan keberanian dan mencari kata yang tepat.

“Kau tahu siapa dia???” tanyaku akhirnya. Tapi tak ada respon, sepertinya dia tidak tahu atau tidak ingat soal Hanbi oppa.

“Dia adalah orang yang membuatmu terbaring di sini. Ne dia adalah orang yang telah menabrakmu dan kebetulan aku adalah adiknya. Itu sebabnya aku di sini.” Ujarku akhirnya. Aku lalu menyenggol Hanbi oppa dan melirik ke arahnya, seakan berusaha berkata oppa bicaralah sesuatu.

“H h . .haaa. .haii…. Park hanbi imnida.” Oppa memperkenalkan diri dengan kikuk.

“Maaf sudah membuatmu seperti ini, sungguh aku benar-benar tidak sengaja. Kumohon jangan perpanjang masalah ini ke pihak berwajib. Kami akan menanggung semua biaya pengobatanmu sampai sembuh. Kumohon…..” kali ini Hanbi oppa tampak bersungguh-sungguh. Sepertinya dia benar-benar merasa sangat bersalah karena telah membuat Minchul seperti ini.

“Tenanglah… aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Aku tahu kau tidak sengaja lagipula aku tidak apa-apa, hanya luka kecil. Aku juga salah tadi, karena aku sedang terburu-buru jadi kurang hati-hati.” Minchul menyimpulkan senyuman tulus di akhir kalimatnya seakan berusaha menenangkan Hanbi oppa dan meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Kini dia benar-benar tampak seperti angel di mataku. Ohhh My Angel Voice.

“Ahhh… Jae In ya!!!” kudengar tiba-tiba Minchul berteriak. Seakan ada sesuatu yang gawat.

“Ya kau membuatku kaget. Mwoya???” tanyaku setengah mendengus.

“Shin byul…. ini waktunya dia pulang sekolah.” minchul diam sejenak membiarkan kalimatnya menggantung beberapa saat. “Maukah kau membantuku sekali lagi Jae In ya???” dia menatap dengan sungguh ke arahku.

Aku mulai mengerti arah pembicaraanya. “Ne. .aku akan menjemput Shin Byul sekarang. Kau istirahat saja, Shin byul biar jadi urusanku.”

“Mian aku merepotkanmu lagi.”

“Ya… jangan begitu. Lagipula ini kan juga gara-gara oppaku yang babo ini jadi anggap saja ini termasuk permohonan maaf kami. Baiklah aku pergi sekarang.” Aku baru akan membalik badan saat aku mendengar Minchul kembali memanngil namaku.

“Ne… “

“Bisakah kau sekalian mampir ke cafe dan katakan kalau dalam beberapa hari ini aku tidak bisa masuk kerja, mereka bisa memecatku kalau aku tiba-tiba menghilang tanpa berita.”

“Ahh oke. No problem”

“Mian aku benar-benar merepotkanmu hari ini Jae In ya”

“Ayolahh… santai saja. Ini bukan hal besar kok.” Aku memasang senyum terbaikku berusaha mengenyahkan rasa tidak enaknya. “Baiklah aku pergi!!”

***

Aku langsung beranjak ke cafe setelah menjemput Shin Byul di sekolahnya. Saat aku datang menjemputnya sekolah sudah hampir sepi. Shin Byul duduk sendirian di sebuah bangku di dekat kolam ikan. Dia pasti sudah lama menunggu appanya. Dia keheranan saat melihat aku yang datang menjemputnya. Akupun menjelaskan tentang keadaan appanya sekarang. Meski dia hanya mengangguk kecil saat mendengar kabar tentang appanya tapi aku bisa melihat gurat kekhawatiran di wajahnya. Dia menjadi lebih pendiam dari biasanya. Mungkin begitulah caranya mengekspresikan perasaan mengingat dia memang cukup pendiam.

Aku mulai mengedarkan pandangan ke seisi cafe sambil berjalan menyusuri cafe yang bahkan hampir setiap sudutnya sudah aku hafal itu. Orang-orang tengah tenggelam dalam urusan mereka masing-masing. Para pelayan berlalu lalang mengantarkan pesanan sedang para pelanggan asik menikmati hidangan mereka masing-masing. Tapi aku masih kebingungan mencari siapa yang harus aku temui.

“Bruuukkkk”

Aku menabrak seseorang. Aku bahkan sampai lupa memperhatikan langkahku hingga menabrak orang seperti ini. Babo!

“Mianhae Jeongmal mianhaeyo” aku berkali-kali menunduk dan meminta maaf.

“Gwaenchanayo.”

Aku menegakkan tubuhku dan melihat siapa yang baru saja aku tabrak. Aku tercengang seketika. Ini adalah kejutan lain di hari ini. Seorang namja tinggi dan putih berdiri di hadapanku. Pipinya sedkit chubby dengan rambut yang dihiasi poni samping. Namja itu tampak makin berkilau dengan setelan jas semi formal yang dikenakannya. Dia adalah Yoo Haenghun. Kakak senior yang aku kagumi dari SMA. Berita terakhir yang kudengar adalah dia masuk ke salah satu universitas terbaik di kota ini.

“Jae in ya????” sekali lagi aku tercengang. Dia tahu namaku?? Sejak kapan??. Seingatku, aku bahkan tidak pernah berani berkenalan dengannya dulu, aku hanya memerhatikannya dari jauh tanpa dia tahu.

“Kau tahu namaku???” tanyaku masih dengan keheranan.

“Tentu saja. Kita kan satu SMA dulu.”

Belum sempat aku mengutarakan keherananku dia sudah menimpali lagi.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya sambil mengajakku menuju sebuah meja di sudut cafe itu.

“Eee iya. Aaa. .aku ada sedikit urusan dengan seseorang yang berwenang di sini.” Aku bahkan tidak tahu siapa yang harus aku temui untuk memintakan izin untuk Minchul.

“Hah?? Maksutmu?”

“Seorang temanku bekerja di sini sebagai penyanyi tapi baru saja dia mengalami kecelakaan, jadi dia memitaku untuk membantunya meminta izin beberapa hari ke depan.” Tuturku panjang lebar, aku sudah bisa menguasahi diriku kembali. Walaupun sempat merasa gugup tapi aku tidak merasa canggung. Sosoknya tetap terasa begitu hangat, seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

“Ahhh…. mungkin itu dia orang yang kau cari.” Haenghun oppa menunjuk ke arah seorang pria dengan jas berwarna hitam yang sedang berbicara dengan salah seorang pelayan, dia tampak sedang memberi pengarahan kepada pelayan wanita itu. Sepertinya Haenghun oppa memang benar. Aku lantas menghampiri pria setengah baya yang ternyata adalah manager cafe itu. Tak kusangka dibalik garis wajahnya yang keras ternyata dia sangat ramah. Dia juga bos yang perhatian pada karyawannya.

Setelah menceritakan keadaan Minchul dan sedikit berbasa-basi dengan manager bernama Park Dong il itu, aku langsung kembali ke meja di mana Shin Byul dan Haenghun oppa menunggu. Tapi aku tidak menemukan mereka di sana.

Aku kemudian beranjak menuju pintu keluar bermaksud mencari Haenghun dan Shinbyul. Dan benar saja mereka ada di sana, di luar pintu keluar. Haenghun sudah berdiri menunggu di sana dengan menggendong Shin Byul. Aku sempat kaget melihatnya mengingat Shin Byul tidak mudah akrab dengan orang baru. Tampaknya Haenghun oppa sudah berhasil mengambil hati anak itu.

“Urusanmu sudah selesai kan? Ayo pulang aku akan mengantar kalian.” ujar Haenghun sembari menuju mobilnya yang terparkir di depan cafe. Seulas senyum yang selalu ku kagumi tersungging di bibirnya. Dia sama sekali tidak terlihat canggung meskipun kami baru bertemu setelah sekian lama.

“Oppa! Gwaenchana Kami bisa pulang sendiri, aku bawa mobil kok.” Aku menunjuk ke sebuah mobil berwarna silver yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Kalau begitu biar aku tinggal mobilku di sini dan aku antar kalian pulang. Kajja!” Haenghun langsung menuju mobilku. Aku hanya bengong. Ternyata dia sungguh keras kepala dan over confident.

“Tapi Oppa…”

“Sudahlah ayo. Kita kan sudah lama tidak bertemu jadi aku ingin bernostalgia denganmu. Berikan kuncimu.”

Aku yang masih berada di tempatku semula berdiripun akhirnya menyerah dan melemparkan kunci mobilku ke arah Haenghun yang masih menggendong Shin Byul.

“Nostalgia katanya? Seingatku aku bahkan tak sempat mengenalnya dulu, aku hanya mengaguminya dari jauh. Lagipula darimana dia tahu namaku?” gumamku dalam hati setengah menggerutu menuju mobilku yang telah di kudeta oleh Haenghun oppa.

***

At hospital

“Jadi Shin Byul appa di rawat di sini?” tanya Haenghun oppa. Kami tengah melewati sebuah lorong kecil menuju kamar rawat Minchul.

“Apa dia oppamu? Atau sepupumu? Atau jangan-jangan dia calon suamimu?” Haenghun terus saja nyerocos sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. Satu hal lain yang kini kutahu tentang Haenghun oppa. Dia sangat bawel.

“Omo. . Kau ini cerewet sekali oppa. Nanti akan kukenalkan kau padanya.” jawabku akhirnya menutup sesi pertanyaann Haenghun oppa sebelum dia semakin menjadi. Tapi bagaimanapun sejujurnya aku senang bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama.

“Nah itu dia kamarnya!!” kali ini aku menunjuk ke sebuah kamar bertuliskan ‘2707’ yang sudah ada di hadapan kami. Shin Byul yang sedari tadi digandeng oleh Haenghun oppa pun langsung menghambur menuju kamar itu.

“Appa. . . . ” Tak lama terdengar pekikan Shin Byul dari dalam kamar saat aku dan Haenghun oppa baru saja akan masuk.

“Annyeong!!” Sapa ku saat masuk diikuti Haenghun oppa. Ternyata Hanbi oppa juga masih di sana. Dia sudah tampak jauh lebih baik dari terakhir kali kutinggalkan tadi. Dia tampak lebih fresh dan santai. Senang akhirnya melihat Hanbi oppaku sudah kembali.

“Jae In-ah darimana saja kau? Lama sekali” serobot Hanbi oppa.

“Mianhae Hanbi oppa. Ada sedikit masalah tadi.” Aku nyengir.

“Masalah apa?? alasan saja kau ini. Ya. .nuguya?” tanya Hanbi oppa saat melihat Haenghun dari balik punggungku.

“Sajang-nim?” celetuk Minchul tiba-tiba.

“Sajang-nim?” gumamku tak mengerti.

“Minchul-ah?? Jadi kau Shin Byul appa?” ujar Haenghun tak kalah kaget.

“Wait. . Wait. . Kalian sudah saling kenal?” tanyaku mencoba meluruskan kebingunganku sendiri.

“Tentu saja. Dia itu Yoo Haenghun, pemilik cafe tempatku bekerja Jae In-ah. Kau tidak tahu? Bukankah kalian datang bersama?”

“Benarkah itu oppa?”

Haenghun hanya mengangguk sembari tersenyum kecil menjawab pertanyaanku.

“Oppa. . Kenapa tidak bilang dari tadi?” kali ini aku memukuli bahu Haenghun oppa. Kesal. Kenapa aku harus susah-susah mencari pemilik atau manager cafe tadi kalau ternyata dialah pemiliknya.

“Ya. . Appo. Ini bukan hal penting kan??” Haenghun mencoba membela diri. Dia kemudian mengambil sedikit jarak dariku. Mungkin dia tidak ingin jadi sasaran kebrutalanku lagi.

“Ngomong-ngomong kalian tampak akrab meski baru saling kenal.” Tiba-tiba Minchul ikut berkomentar dalam perdebatan kami.

“Baru saling kenal?” tanya Haenghun seolah mencoba memperjelas pernyataan Minchul yang tidak dimengertinya.

“Ne. . Bukankah kalian baru bertemu di cafe tadi?” Minchul beragumen dengan sok tahunya.

“Siapa bilang?? Kami sudah saling kenal sejak SMA. Jae In ini penggemar beratku saat SMA, iya kan??” Haenghun mengerjap-ngerjapkan matanya ke arahku sambil tersenyum jail. Matilah aku.

“Hah?? Sssi. .siapa bilang aku fans beratmu? Ti…tid .tidak” Aku dibuatnya salah tingkah. Aku tak habis pikir bagaimna dia bisa tahu itu semua. Bukankah kami tidak pernah saling mengenal???

“Ohh jadi ini Haenghun yang dulu sering kau ceritakan??” kali ini Hanbi oppa ikut membuatku semakin terpojok. Aku tak sempat membungkam mulutnya. Hahh Hanbi oppa babo.

“Kenapa kau harus mengatakannya oppa? Kau bisa membuatku mati berdiri di sini karena malu” rutukku dalam hati. Andai bisa aku ingin segera menghilang dari ruangan ini.

“Jinjja?? Dia sering cerita soal aku? Apa saja yang dia ceritakan Hanbi-ssi? Ceritakan padaku ceritakan.” Haenghun oppa semakin menjadi.

Bughhh

Kali ini aku berhasil menginjak kaki Hanbi oppa sebelum dia berceloteh lebih banyak kepada Haenghun.
“Ehm. .mm..em.. Entahlah aku sudah lupa itu kan sudah lama, aku hanya ingat dia pernah bercerita soal seseorang bernama Haenghun” Hanbi mencoba mengarang cerita. Untunglah kali ini Hanbi oppa cepat tanggap dengan maksudku.

“Aaahh oppa sepertinya kita harus segera pulang sekarang. Tadi aku tidak sempat meminta izin pada eomma. Ayolahh oppa” Aku merengek pada Hanbi. Rasanya aku ingin sesegera mungkin keluar dari situasi ini.

“Oh iya” tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. “Bagaimana dengan Shin Byul? Dia tidak mungkin ada di sini sendirian bersamamu. Dia masih terlalu kecil. Ehmmmm. .bagaimana kalau dia tinggal bersamaku selama kau di rawat rumah sakit Minchul-ah?”

“Apa kau yakin tidak apa-apa? Maksudku bagaimana dengan keluargamu?” sekilas Minchul tampak ragu dengan rencanaku.

“Ne gwaenchana. Mereka semua pasti setuju, lagipula kata dokter kau hanya perlu rawat inap beberapa hari.”

“Jae In benar, biar kami saja yang merawat Shin Byul sementara sampai kondisimu membaik.” ucap Hanbi oppa tulus. Dia tampak lebih peduli kali ini.

“Baiklah. Gamsahamnida Jae In- ah Hanbi-ssi”

“Shin Byul-ah, jangan nakal ya, turuti kata-kata Jae In ahjumma. Appa pasti akan segera menjemputmu setelah Appa sembuh nanti.” Minchul berpesan pada Shin Byul sambil mengelus kepala anak perempuannya itu. Hanbi dan Haenghun hanya menatap datar, mungkin karena mereka belum pernah memiliki seorang anak. Sedangkan Shin Byul hanya mengangguk kecil.

“Ok kajja!!” seruku bergegas sambil menggendong ShinByul.

***

_Author P.O.V_

Langit tampak cerah dan matahari bersinar terang. Hari ini cukup terik. Bahkan Jae In bisa merasakan sengatan panas sampai ke dalam dagingnya. Hae Ju yang berjalan beriringan dengannya sedari tadi pun sibuk mengibas-ngibaskan sebuah kipas tangan yang dibawanya. Jae In dan Hae Ju baru saja menyelesaikan kuliah mereka hari ini dan berniat menuju ke kantin bersama untuk sekedar mencari minuman segar untuk mendinginkan tenggorokan mereka yang sudah dalam level kritis.

Drrrrrtttt drrrttttt. Ponsel Jae In tiba-tiba berdering. Sebuah nama yang cukup sering menghubunginya akhir-akhir ini terpampang di layar ponselnya.

“Ne oppa, waeyo?”

“Jae In-ah dimana sekarang?” tanya Haenghun di seberang telpon.

“Aku masih di kampus oppa, aku baru saja keluar kelas”

“Ok aku jemput sekarang ya, jangan kemana-mana.”

“Tidak perlu menjemputku, aku mau ke toko buku bersama temanku setelah itu menjemput Shin Byul dan ke rumah sakit. Jadwalku padat hari ini oppa. Sudahlah kau tak perlu menjemputku. Lagipula kau kan harus bekerja.”

“Kalau begitu biar kuantar kalian. Semua pekerjaanku sudah selesai kau tak perlu khawatir chagi.”

“Ya . . genitttt!! kau selalu saja keras kepala oppa. Baiklah terserah kau saja” flip. Jae In menutup telfonnya.

“Nuguya?” tanya Hae Ju.

“Haenghun oppa” jawab Jae In singkat.

“Pacar barumu?”

“Mwo???Ani. . .cuma teman biasa. kau ini!!”

“Tapi dia tampaknya sangat perhatian padamu” Hae Ju masih saja ngeyel.

“Kita memang cukup dekat beberapa hari ini tapi aku menganggapnya seperti Hanbi atau Yunhwa oppa, tidak lebih”

“Are you sure??” selidik Hae Ju sekali lagi. Dia masih belum menyerah.

“Hmm. . . we’ll see” jawab Jae In menggantung membuat Hae Ju semakin penasaran. Bukankah jodoh adalah sebuah rahasia Tuhan??

“Sudahlah ayo kita ke kantin saja sambil menunggu Haenghun oppa, di sini panas.”

Tak berapa lama menunggu Haenghun akhirnya datang. Mereka bertigapun berangkat setelah sebelumnya Haenghun dan Hae Ju saling berkenalan. Tampaknya Haenghun memang sosok yang humble. Dia tidak tampak canggung bahkan terlihat cukup akrab dengan Hae Ju meski baru saling mengenal. Dia juga perhatian. Dia membantu Jae In dan Hae Ju untuk mencari dan memilih buku yang mereka butuhkan. Seperti yang dikatakan Hae Ju, Haenghun memang orang yang perhatian. Sejak pertemuan mereka di cafe, selalu ada Haenghun di hari-hari Jae In. Dia seperti sahabat yang selalu ada untuk Jae In.

At hospital

Minchul tengah berbaring dan terlelap saat Jae In dan Shin Byul sampai di kamar rawatnya. Ada piring dan gelas kotor di samping ranjangnya, tampaknya dia baru saja menyelesaikan makan siangnya. Jae In menatap lekat Minchul yang tengah terlelap. Dia elalu suka memandangi wajah Minchul saat terlelap seperti ini. “Nomu moissoyo” gumam Jae In. Pandangannya lekat pada pria yang terbaring di hadapannya. Pria yang membuatnya tak berpaling. Pria yang akan selalu membuatnya merasa lebih baik hanya dengan mendengar suaranya. Jae In tidak pernah bosan melakukan hal itu meski setiap hari dia menjenguk Minchul di rumah sakit.

“Ahjumma. . .” suara lembut Shin Byul mengagetkan Jae In dan membuyarkan lamunannya. Membawanya kembali ke dunia nyata.

“Ne chagiya. . Wae??” Jae In menunduk mendekati Shin Byul.

“pipis.. . ” bisik Shin Byul dengan muka meringis yang membuat Jae In ingin tertawa dibuatnya. Tampaknya Shin Byul sudah menahannya dari tadi. Jae In kemudian mengantar gadis kecil itu ke toilet.

“Nahh sekarang princessnya sudah cantik.” Jae In membantu Shin Byul merapikan pakaiannya setelah keluar dari kamar mandi. Seulas senyum polos Shin Byul membalas perkataan Jae In. Dia begitu cantik.

“Ehm. . Shin Byul-ah kau mau es krim?” tawar Jae In pada Shin Byul selagi menunggu appanya bangun karena dia sudah tampak bosan. Gadis itu seketika mengangguk semangat dan tersenyum lebar.

“Baiklah. Let’s go!!”

Shin Byul akhirnya terlelap setelah melahap es krim stroberinya dan Jae In membacakannya sebuah buku cerita. Sedang Minchul masih juga belum bangun.

“Mungkin suster memberinya obat tidur agar dia istirahat.” pikir Jae In. Jae In bangkit perlahan dari sofa agar Shin Byul yang tidur di pangkuannya tidak terbangun.

“Jae In-ah??”

Langkah Jae In terhenti di ambang pintu.

-TBC-

We Get A Baby -part 1- (by : HwangMind11)

Title:  We Get A Baby

By: Hwang Rezki

Cast: Shin Min Chul, Wang Fei Fei and OC

-Chapter 1-

Even Though I can’t say it right now

Even when I keep getting nervous looking at you

I always think of you, you don’t know yet

You don’t know my love

I just need you

(B2st-You)

“Woaaaaaaah….. udah mulai acaranya!!!”, pekik Yun Hwa  sedikit berteriak dan berlonjak senang karena variety show favoritnya yang ia tunggu sejak 1 jam yang lalu akhirnya mulai juga.

“Ya! Hyung berisik sekali! Aku lagi menghapal naskah nih!”, protes Han Bi dari sudut ruangan.

Yun Hwa menoleh, menyadari keberadaannya.

Ia baru sadar Han Bi masih ada di ruang tamu Soundbirds, di tempat yang sama dengannya.

Karena 1 jam yang lalu mereka mengadakan pesta kecil menyambut kebebasan Yun Hwa dari wajib militer yang di jalaninya selama 2 tahun.

Han Bi maknae mereka itu memang agak sibuk akhir-akhir ini, karena sedang proses reading untuk drama barunya. Ia harus menghapal beberapa dialog utamanya, dan itu membutuhkan ketenangan.

“Aihh…. Maaf Han Bi-ah aku terlalu bersemangat tadi”, Yun Hwa terkekeh malu.

Han bi tak menggubris ucapannya dan melanjutkan kegiatannya.

“Emangnya acara apa sih?”, celetuk Jun. walau sebenarnya ia juga kurang tertarik, lagi pula ia juga tidak punya banyak waktu untuk menonton Tv.

“Itu loh acara We Get A Baby, tentang pasangan artis yang disuruh merawat anak kecil. Mereka juga disuruh pura-pura menikah dan jadi orang tua dari anak itu. Terus menjalani serangkaian kegiatan bersama seperti sepasang suami istri”, jelas Yun Hwa

“Dih…apa menariknya acara seperti itu. Sini pinjem remotenya…”, tandas Jun secepat kilat merebut remote yang ada di tangan Yun Hwa, dan mengganti channel tv sport.

“Ya! Ya! Apa menariknya acara seperti itu…!!??”, teriak Yun Hwa persis seperti anak kecil yang kehilangan lolipopnya.

Min Chul yang tertidur di belakang sofa sampai terbangun mendengar teriakannya dan Han Bi hampir melemparinya dengan sepatu kalau Yun Hwa tidak segera menutup mulutnya.

Min Chul mengejapkan matanya beberapa kali, melihat Yun Hwa dan Jun yang sedang berebut televisi. Min Chul menghampiri mereka. Duduk di antara mereka berdua dan merebut remotenya dari Jun.

“Eh, Hyung udah bangun”, sapa Yun Hwa

“Gara-gara teriakanmu aku jadi terbangun tau!”, ucap Min Chul pandangannya tidak beralih sedikitpun dari layar tv.

Yun Hwa berharap Min Chul akan mengganti channel yang ia inginkan.

Tepat sekali!

‘Yes! Yes!’ Pekik Yun Hwa dalam hati

“Jun sesekali mengalah lah dengannya, selama di camp dia jarang nonton tv kan”, bela Min Chul

Yun Hwa tersenyum penuh kemenangan sedangkan Jun hanya dapat mendesis kesal kehilangan pertandingan baseball kesukaanya.

“Nah Yun Hwa sekarang pijetin tanganku! Oke?”, perintah Min Chul sambil manjulurkan lengan kirinya pada Yun Hwa

“Ah hyung…. Aku jadi tidak konsentrasi nontonnya”

“Oh, mau aku ganti……”

“Andwae!!!”, Yun Hwa segera merainh tangan Min Chul dan memijatnya perlahan

Acara We get a baby episode terakhir pun dimulai kali ini yang mendapat sorotan adalah pasangan

Jin Woon 2AM dan Hyuna 4Minute yang sedang melaksanakan misi terakhir mereka, yaitu membuat seorang anak laki-laki berumur 4 tahun, memanggil mereka dengan sebutan ‘Eomma dan Appa’ di hadapan banyak orang.

Yun Hwa tertawa begitu melihat Jin Woon mengejar-ngejar anak laki-laki itu sampai terjatuh dan wajahnya terkena tumpukan salju.

“Hahahaha… si babo itu… ternyata  dia tidak berubah…tetap saja babo…”, ucap Yun hwa di sela-sela tawanya

Jun ikut tertawa melihatnya, Han Bi yang merasa penasaran pun merapat ke arah mereka.

Tapi karena ia tidak kebagian tempat duduk di sofa, ia pun duduk di lantai.

Kemudian kamera beralih pada pasangan yang lain.

Pasangan Narsha Brown Eyed Girls dan Se7en mereka juga mendapat misi yang sama.

Sekarang mereka sedang makan siang di dalam sebuah apartemen yang mereka tinggali.

“Omo…. Mereka terlihat seperti keluarga sungguhan”, ujar Min Chul pura-pura terkejut dan jelas-jelas maksudnya adalah menyindir Yun Hwa.

“Tak ku sangka Narsha-ssi ikut acara ini, ah kau bela-belain  nonton ini karena ada dia  kan?”, tebak Jun

Yun Hwa mendadak salting

“Bukan! Bukan karena ada dia… tapi acara ini memang menarik…”, elak Yun Hwa

“Tapi sayang ya, Narsha noona sudah punya pasangan kalau ada season duanya kau tidak bisa bersamanya hyung”,komentar Han Bi kali ini berhasil membuat Yun Hwa manyun.

Ia sendiri tidak menyangka Narsha bisa ikut acara seperti ini, ia jadi menyesal karena selama di camp ia jarang meng-update berita tentang kegiatan Narsha melalui internet.

Setelah keluarga kecil Narsha selesai makan siang, mereka pergi keluar untuk membawa anak mereka jalan-jalan sambil terus berusaha menyelesaikan misi mereka.

Tiba-tiba kamera menyorot Narsha yang terjatuh karena High hels-nya patah dan menancap di tumpukan salju.Se7en langsung menahan kakinya dan berusaha memijatnya pelan dengan penuh perhatian. Wajah Narsha langsung merona merah.

Min Chul, Jun , dan Han Bi kompak berseru

“Wuuuuuu  Romantisnyaaaaaaa”, sontak Yun Hwa melirik kearah mereka dengan kesal

“Apa kalian tidak bisa diam??”, erang Yun Hwa

Mereka hanya tertawa merasa berhasil mengerjai Yun Hwa.

Tiba-tiba telepon berbunyi, mengalihkan perhatian mereka semua.

Min Chul buru-buru mengangkat teleponnya yang berada di sudut ruangan.

“Yoboseyo”, sahut Min Chul

“Ah ne, apa ini dengan managernya Shin Min Chul?”, tanya seseorang dari balik telepon

“Er….. bukan, ini dengan Min Chul sendiri. Siapa ya?? Ada perlu apa?”

“Oh begini, saya PD Kim Naran dari stasiun tv MN, kami sedang mencari artis untuk berpartisipasi dalam program variety show we get a baby season 2, kami ingin menawari  anda mengikuti program ini. Karena imej anda sangat cocok untuk program ini, jadi bisakah anda ke kantor kami besok? Kami ingin membicarakan masalah kontrak lebih detail. nanti saya kirim alamat kantor kami melalui e-mail. Bagaimana? Apa anda bersedia?”,Tanya wanita itu dengan lancar, sepertinya ia terlalu berpengalaman dalam hal ini. Dalam hal membujuk para artis.

Min Chul tergagap tidak percaya

“A…apa katamu? Variety show apa?”, Tanya Min Chul .

Jun , Han Bi dan Yun Hwa langsung menoleh kearahnya. Sangat ingin tau.

“We get a baby”, ulang PD Kim lagi, Min Chul menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba tenang.

“Hmmm… baik saya akan membicarakannya dulu dengan manager saya. Terima kasih”, Min Chul mengakhiri teleponnya

“Siapa yang menelpon hyung?”, sambar Han Bi begitu melihat wajah pucat Min Chul berjalan mendekati tempat duduknya semula. Di tengah-tengah Jun dan Yun Hwa

“Seorang PD dari stasiun TV”, jawab Min Chul lemas. Matanya tidak beralih sedikitpun dari layar tv. Memandang pasangan Ki Kwang dan Hyosung yang telah berhasil menyelesaikan misi terakhir mereka sambil menggendong anak kecil tersebut berputar-putar di udara.

“Wah, dapat tawaran perform? Dimana?”, kini Yun Hwa yang bertanya penuh semangat

“Bukan, tapi variety show”,jawab Min Chul malas meladeninya

“Variety show apa?”, tanya Jun menaikan alisnya. Yun Hwa dan Han Bi menoleh kearah Min CHul.

“We get a baby”

“APAA!!!???”, ke 3 orang itu lantas berteriak terkejut. Yun Hwa bahkan menganga saking shock nya.

“Hmm…. Pantas hari ini ditayangin episode terakhirnya. Ternyata mereka lagi cari peserta baru! Buat season 2”, Yun Hwa berkata dengan menggebu-gebu dan Min Chul sangat tidak ingin mendengarnya.

“Acara ini diadakan 1 tahun sekali, syutingnya kurang lebih selama 1 bulan 15 hari. Yaitu dari tanggal 1 Januari sampai tanggal 15 Februari. Soalnya acara  ini memang dibikin khusus buat menyambut tahun baru dan musim dingin. Nah tapi di tayangin di tv pas mendekati akhir tahun”, Yun Hwa menjelaskan panjang lebar tanpa diminta. Han Bi dan Jun mangangguk paham.

“Jadi yang sedang kita tonton ini, syutingnya pas tahun baru 2012 yang lalu?”, Tanya Han Bi

“Benar! Karena banyak artis yang sibuk mempersiapkan comeback setelah tahun baru. Makanya mereka membookingnya terlebih dulu untuk ini”, jawa Yun Hwa

“Kasian juga, mereka jadi tidak punya waktu bersantai pas tahun baru”, Komentar Jun

“Itu resikonya! Tapi kudengar rating acara ini sangat tinggi. Banyak artis yang setelah mengikuti acara ini langsung dapat tawaran untuk main film maupun drama. Jadi acara ini sangat bagus untuk mendongkrak kepopuleran seorang artis”, Yun Hwa menutup pidatonya dengan melihat Min Chul, berharap mendapat respon darinya.

“Jadi kau ikut acara ini kan hyung?”

“Emm….Molla… aku bingung, tapi kalau honornya besar kenapa tidak?”, jawab Min Chul yang mulai tertarik dengan argumentasi Yun Hwa tadi

“Eung….. kira-kira siapa pasangan Min Chul hyung ya…”, gumam Han Bi

“Narsha!! Atau…. Jessica!!”, tebak Jun menyebut 2 nama wanita yang pasti akan membuat Yun Hwa galau 3 hari 3 malam kalau tebakkan Jun benar

“Bingo! Tapi Narsha noona sudah tidak mungkin, berarti Jessica!”, sahut Han Bi.

“Haahahahahahaha…………”, Min Chul tertawa terbahak-bahak saat Yun Hwa mulai menyerang Jun dan Han Bi dengan jurus romantic cat nya.

[]

Min Chul menyesap kopinya perlahan, menikmati kesendiriannya di soundbirds.  Di malam tahun baru ini ia justru seorang diri melihat tayangan di tv yang tidak ada habisnya.

Min Chul jadi teringat besok dia mulai syuting variety show petamanya, agak gugup memang. Memikirkan akan banyak orang disana yang tidak ia kenal, yang lebih muda darinya, yang lebih berbakat darinya.

Apa dia bisa? Terbiasa dengan kamera yang akan mengikutinya kemanapun ia pergi.

Terbiasa dengan orang-orang baru di sekitarnya. Dan terbiasa dengan…… pasangannya nanti. PD Kim bilang setiap idol akan mendapatkan pasangan dari grup idol lain dan mereka akan tinggal bersama dalam sebuah apartemen selama kurang lebih 2 bulan.

Ini agak menakutkan, mengingat Min Chul terakhir kali memiliki hubungan dengan seorang wanita adalah 5 tahun yang lalu, dan sampai sekarang ia tidak pernah dating lagi, apalagi sampai mempunyai calon istri. Padahal usianya sudah sangat matang untuk menikah.

Min Chul membayangkan bagaimana pasangannya nanti, pendek atau tinggi? Hitam atau putih?

Member girl band atau solois? Ahhh terlalu dini untuk memikirkan hal itu.

Tiba-tiba bel soundbirds berbunyi Min Chul membukakan pintunya dengan sangat malas, ia kurang bergairah untuk melakukan apapun malam ini.

Yun Hwa dengan berpakaian rapi tersenyum di depan pintu.

“Hyung  jalan-jalan keluar yuk~ ini kan malam tahun baru. Yang lain juga sudah menunggu kita loh di Myeongdong”

“Myeongdong?”, Tanya Min Chul

“Iya… ada pesta kembang api disana! Ayo ….”, Yun Hwa langsung masuk kedalam ruang tamu soundbirds, meraih tas dan jacket Min Chul mematikan tv dan segera menyeret Min Chul pergi.

 

* Min Chul pov *

Myeongdong sangat ramai. Dibanjiri ribuan orang, setiap tahun  memang seperti ini. Ada festival kembang api menyambut pergantian tahun. Padahal jelas-jelas musim dingin, tapi ketika berada di tempat ini malah  terasa panas. Aku melonggarkan syal yang melilit di leherku.

Kali ini kami berkumpul lengkap, Chan Yang si pria super sibuk pun menyempatkan diri kesini, hanya untuk melihat kembang api. Di tengah lapangan yang luas dihadapan kami ini terdapat sebuah panggung dengan dekorasi yang sangat meriah. Beberapa tarian tradisional telah di tampilkan, sekarang giliran sekumpulan gadis pansori yang menunjukkan kebolehannya di atas panggung.

“Eh katanya ada special stage Miss A loh..”, ujar Chan Yang memberi tahu kepada kami ketika kami sedang berada di sebuah restoran cepat saji yang tepat berhadapan langsung dengan panggung.

Aku melahap jajangmyun pedas favoritku.

“Benarkah?”, Tanya Han Bi antusias

Chan Yang mengangguk sambil menelan kimbabnya

“Wah… mereka tetap kejar setoran ya, tidak peduli meskipun tahun baru”, komentar Yun Hwa

“Ya… kalau kita masih sepopuler dulu, kita pasti juga seperti mereka”, sahutku disambut anggukan oleh Jun-ah

Tak berapa lama para penonton mulai berkumpul memenuhi sisi depan panggung, rupanya Miss A, girl band yang ditunggu-tunggu sudah berada di atas panggung. Aku berdiri penasaran seperti apa sih Miss a itu. Dari jauh aku melihat 4 orang gadis muda yang cantik dan fresh berdiri di atas panggung, setelah memberi salam mereka mulai bersiap untuk perform. Membawakan lagu hitz mereka Bad Girl Good Girl.

“Ah… aku pernah menarikan dance mereka, waktu di innvesible  baseball”, ujar Jun

“Benarkah hyung? Berarti kau kenal baik dengan mereka?”, Tanya Yun Hwa

“Tidak begitu akrab, waktu itu mereka hanya mengajari tim kami menarikan dance itu sebagai tantangan”

“Hmm… mereka cantik-cantik ya… masih muda sudah mencapai kepopuleran seperti ini…”, gumam Chan Yang

“Tentu saja, Karena mereka berada di bawah manajemen yang besar”, sahutku. Aku kembali duduk menikmati jus jeruk yang kupesan. Hanya Han Bi yang mengangguk setuju. Jun, Chan Yang maupun Yun Hwa terdiam, tidak tau hendak berkata apa.

Aku melirik ke panggung itu lagi, andai kami masih bersama seperti dulu. Kami pasti bisa mencapai lebih dari mereka. Walaupun kami telah lengkap, tapi tidak semudah itu untuk kembali seperti yang dulu. Karena sekarang kami memiliki jalan masing-masing.

Rasanya memang terlalu sulit untuk kembali.

*

Tidak terasa 1 jam berlalu, kini tiba saatnya penghitungan mundur menuju tahun baru. Tahun 2013.

Para pengisi acara berkumpul di atas panggung bersiap untuk menghitung mundur bersama para penonton lainnya.

Kami membaur di tengah kerumunan orang, saling berjejal satu sama lain.

Kembang api siap diluncurkan. Serempak semua orang yang ada disana menghitung mundur.

“TIGAAAA……”

Dalam hati aku mengucapkan harapan, agar karierku sebagai produser semakin melonjak tahun ini.

“DUAAAAA……..”,

Dan kedua orang tuaku, seluruh keluargaku diberi kesehatan. Dan aku segera mendapat jodoh. Hahaha

‘DUAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRR’

“SAATUUUUUU……..”, bersama dengan deru suara puluhan kembang api yang menghiasi langit, aku berharap. Sebuah harapan yang aku tau tidak akan mungkin.

Sebuah harapan bahwa T-Max akan kembali.

[]

Jam wekerku berbunyi tepat jam 7 pagi, aku mengambil handuk dan segera pergi untuk mandi. Sang Min menemuiku di dapur ketika aku selesai sarapan. Ia memintaku untuk menyiapkan beberapa baju agar bisa di angkutnya kebagasi mobil van kami. Aku baru ingat kalau hari ini aku mulai syuting

We get a baby di stasiun tv MN, dan mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen yang disediakan mereka sebagai bagian dari keperluan syuting. Ah, aku pasti akan merindukan apartemenku.

Kami telah sampai ketempat acara, ternyata tempatnya sangat ramai, di sebuah panggung besar di dalam sebuah aula. Sebagian besar yang ada di sana adalah para fans yang mendukung idola mereka, juga para wartawan yang mengambil gambar, dan… para grup idol yang mengantarkan salah satu teman mereka yang mengikuti acara ini.

Aku iri pada mereka karena hanya ada managerku yang mengantarkanku kesini, ke 4 bocah itu mana mungkin datang.

Namun tiba-tiba sekelompok gadis memanggil namaku

“Min Chul opaaaaaaa fighting! Hwaiting!”, teriak mereka dari bawah panggung. Beberapa di antara mereka memotretku, aku mengacungkan jempolku

“Gamshamnida”, ucapku meski tidak terdengar jelas.

Ya, mereka adalah MightyMax dan Blackpearl yang selalu setia mendukungku, mereka adalah bagian dari hidupku yang tidak pernah aku lepaskan.

Kemudian mereka berteriak semakin nyaring karena Chan Yang, Jun, Han Bi dan Yun Hwa bergabung diantara mereka.

Oh God… mereka datang, mendukungku.

“Hyung… jangan memasang tampak jelek, kau sedang di sorot kamera!!!”, teriak Chan Yang

Aku hanya tertawa malu kepada peserta idol lain yang sudah berbaris sejajar denganku, diantara semua pendukung hanya member-memberku yang berteriak tak tau malu seperti itu. Hahaha tapi aku sangat senang.

MC dari acara ini adalah Shin Dong dan Ji Yeon, mereka mulai menjelaskan aturan permainannya.

“Woaaaah Ji Yeon-ah, ini sangat menakjubkan!!!! Para penonton sangat antusias menyambut para peserta kita ini!!!!”, ucap Shin Dong

“Tentu saja oppa! Acara kita memang selalu di tunggu-tunggu kehadirannya”, ujar Ji Yeon menimpali

“Ahhh gurae….sekarang mari kita perkenalkan para peserta kita yang pertama ada Jun Hyung-ssi”

“Jun Hyung dari B2ST!!!”, para b2uties bersorak dan Jun Hyung mendapat sorotan beberapa saat, ia tersenyum cool.

“Tae Yang dari Big Bang!!!”, teriakan semakin nyaring terdengar

“Chang Min dari 2AM!!!”

“G.O dari MBLAQ!!”

“Onew dari Shinee!!!”

“Lee Joon dari MBLAQ!!”

“Shin Min Chul dari T-MAX!!!”,

Well, akhirnya namaku disebutkan sebagai peserta ke 7. Dan mereka masih menggunakan nama T-MAX. aku sedikit senang karena hal ini.

“DAN…… Kim Young Jae dari 4MEN!!!!”, teriak Shin Dong

“Ohh… lalu siapa peserta wanitanya Ji Yeon-ah??”

“Aaa… itu masih rahasia oppa, ke 8 laki-laki inilah nanti yang akan memilih mereka melalui undian”,

Mwo??? Undian??? Aku bertanya-tanya undian semacam apa yang mereka buat

Tak berapa lama datang seorang kru yang membawa sebuah kotak kaca transparan, di dalamnya terdapat gulungan kertas putih sebanyak 8 buah.

“Nah di dalam gulungan kertas ini terdapat nama-nama gadis yang saat ini sedang berada di belakang panggung. Kalian akan memilih masing-masing satu, dan gadis yang namanya ada di kertas itulah yang akan menjadi pasangan kalian…. Baiklah aku mulai dari peserta nomer 1…”, ujar Ji Yeon semangat

Aku gugup, baru kali ini aku gugup. Acara ini terlalu banyak memberikan kejutan.

Aku penasaran…

Sangat penasaran…. Gadis seperti apa yang akan dipilih oleh tanganku ini nantinya…..

Ji Yeon telah mendekatiku, memintaku untuk mengambil 1 gulungan kertas seperti yang lain.

Aku menurut dan mengambil 1 gulungan kertas yang ada di dalam kotak itu.

Setelah semua peserta mendapatkan masing-masing satu, mulai dari peserta pertama membuka gulungan kertas itu menunjukkannya kepada kamera dan membacanya dengan nyaring.

“Goo Ha Ra…..”, ucap Jun Hyung suaranya terdengar menggantung. Para penonton bersorak, begitupun dengan MC nya. Terang saja karena itu sebuah kebetulan yang sangat tidak di duga-duga.

Jun Hyung dan Hara sejatinya memang pasangan sungguhan di dunia nyata. Bagaimana bisa…….

Ok, peserta kedua. Tae Yang membuka gulungnnya perlahan

“Hyo Rin…..”, ucapnya

“Woahh Hyo Rin sistar!!”, teriak Shin Dong, penonton kian heboh

“Bo Ra….”, ucap Chang Min

“Hyo Min…”, teriak G.O dengan suara merdunya

“Eun Ji….”, ucap Onew

“Hyunah….Kim Hyunah…”, teriak Lee Joon dengan gaya aegyonya, membuat penonton memekik heboh

Aku dilanda gugup, perlahan ku buka gulungan kertas yang ada di tanganku, dan kudapatkan sebuah nama

“Wang Fei Fei?…..”,tanyaku tak yakin,karena  namanya yang unik untuk seorang warga Negara korea

“Ahhh…. Fei Miss A”, sahut Ji Yeon

Fei Miss A? Miss A yang ku tonton tadi malam?

Wowww….. seperti apa ya orangnya…. Seingatku member Miss A cantik-cantik, dan juga menarik.

Terakhir

“Jea….”, ujar Young Jae. Penonton bertepuk tangan heboh

Aku menoleh. Jea? Ah… seandainya aku yang menjadi pasangannya, aku berteman baik dengannya pasti akan lebih mudah menjalin kekompakan dengan cepat.

“Okey, ini saatnya tirai di belakang kalian kami buka…. Dan temukanlah pasangan kalian disana”, ujar Shin Dong. Kami semua berbalik kebelakang, membelakangi kamera, perlahan tirai merah sepanjang 7 meter di hadapan kami terbuka.

Dan……..

DEG!

Sesuatu seakan menembus dadaku ketika melihat seorang gadis cantik berdiri tepat di hadapanku dengan jarak yang cukup jauh, ia mengenakan gaun putih selutut, rambutnya berwarna coklat bergelombang.

Ia tersenyum padaku……

How beatiful girl!!!! Teriakku dalam hati.

Melihatnya dari jarak seperti ini membuatku tidak bisa berkata-kata lagi….

Inikah yang bernama Wang Fei Fei??

-TBC-

T-Max Is Back -Part 2- (by : Michulsworld)

SPECIAL 5TH ANNIVERSARY

PART 2

TITLE:

T-MAX IS BACK

CAST:

ALL T-MAX MEMBER + MANAGER BAE KYUNG SOO

GENRE:

FRIENDSHIP

BY:

MINCHULSWORLD

 “Baiklah, kali ini aku akan mengajarkan kalian sedikit teknik vokal. Terutama pada bagian ini,” Chanyang menunjuk satu bait lagu yang tertulis di atas kertas yang di bawanya, dan menunjukkan kepada ke empat  namja yang berdiri di hadapannya.

“Naneun neoreul neolmajwo~ Eotteokhae ijeowa neolmajwo~” Chanyang menyanyikan lirik itu sebagai contoh.

“Nah pada bagian itu harus diberi sedikit penekanan di akhir kalimat.”

Ke empat namja di hadapannya mengangguk kompak, menanggapi perkataan Chanyang. Mereka adalah 7942 atau sering di sebut C.G.S.E boyband pertama yang akan di produseri oleh Chanyang. Mereka terdiri dari 4 orang yaitu: Haeng Hun, Jong Hyun, Eung Joo dan Cho Hun.

Setelah memutuskan keluar dari T-Max Chanyang lantas membangun kariernya sendiri, sebagai produser music. Chanyang merasa sangat nyaman dengan profesinya yang sekarang. Ia bisa mengeluarkan semua ide yang ada dipikirannya dengan lugas dan jelas ia merasa lebih bebas.

“Ng…Sunbae-nim bagaimana dengan bagian ini……”

‘Drrtttt……Drttt’

Tiba-tiba handphone Chanyang bergetar, ada telepon.

“Tunggu sebentar ya.” ujar Chanyang pada mereka berempat.

Buru-buru Chanyang menggapai handphonenya di atas meja. Namun begitu melihat nama yang tertera di layar, Chanyang merasa agak kaget.

Min Chul hyung Calling….’

Untuk apa Minchul hyung meneleponku?

Apa mau mengajakku keluar?

Membicarakan sesuatu?

Menyelesaikan kesalah pahaman itu?

Chanyang segera menepis pikirannya yang terakhir.

Anio! Anio! Tidak mungkin! Batin Chanyang.

Lalu…. Untuk apa dia menelepon?

“Sunbae-nim kenapa diam saja? Kenapa teleponnya tidak diangkat?” Pertanyaan Eungjoo membuyarkan pikiran Chanyang.

“Jangan-jangan dari pacarnya ya?” goda Chohun. Keempat namja itu sontak tertawa menggoda

“Bukan! Isshhh… dasar kalian, cepat latihan sana!” sahut Chanyang.

Ia segera mengangkat teleponnya. “Yoboseyo~ hyung-nim?”

“Ah, syukurlah kau mengangkatnya. Aku hampir gila karena temanmu ini tidak mau bangun juga.” sahut seorang wanita dari balik telepon.

“Temanku? Siapa?” tanya Chanyang tak mengerti.

“Temanmu yang punya ponsel ini! Dia mabuk, kedaiku mau tutup, dia sungguh merepotkan. Cepat bawa dia pergi!”

“Mwo? A…apa katamu? Baiklah aku segera kesana sekarang. Di mana tempatnya?”

“Myeongdong tepat di perempatan jalan. Cepat lah!”

“Ne, tolong pastikan dia baik-baik saja sampai aku tiba disana!” Chanyang menutup teleponnya.

Semua mata tertuju padanya sekarang, menatapnya dengan penasaran. Chanyang benar-benar kaget. Setahunya Minchul tidak pernah sampai seperti ini. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Apa mungkin… masalahnya dengan Chanyang yang membuatnya begini?

“Ada apa sunbae-nim?” tanya Haenghun.

“Hmm..sedikit masalah. Kalian latihan sendiri ya, aku harus segera pergi, ada urusan mendadak.” jawab Chanyang tergesa-gesa sambil memakai jaketnya.

“Baik sunbae-nim aku mengerti, aku akan memastikan mereka tidak akan bisa bolos latihan.” Haenghun segera menyahut. Jiwa kepemimpinannya terlihat disini. Chanyang bangga melihatnya yang begitu sigap. Tak salah jika ia dipilih menjadi leader.

Chanyang menyetop taksi di depan kantor manajemen 7942 dan menuju Myeongdong yang mulai terlihat sepi karena sudah jam 11 malam.

Begitu menemukan Minchul, Chanyang langsung berusaha memapahnnya ke mobil. Mengalungkan lengan sebelah kiri di tubuh Minchul menyangga tubuh Minchul agar tidak terjatuh.

“Syukurlah kau cepat datang, tadinya aku mau meninggalkannya di sini.” ujar wanita itu lagi.

“Ne, gamshamnida ahjumma.” balas Chanyang.

Wanita berambut keriting itu tahu-tahu melotot. “Eyy… jangan panggil aku ahjumma! Aku ini masih muda, panggil saja aggashi. Oh iya ini handphonenya. Nanti setelah temanmu ini sadar tolong bilang padanya jangan mempermalukan diri seperti ini lagi. Pelangganku yang lain juga terganggu karena dia tidak mau berhenti berteriak.”

Chanyang menyambut handphone Minchul sambil tersenyum dan membukuk. “Ne, aku benar-benar berterima kasih padamu.” ujar Chanyang.

Chanyang membopong Minchul masuk ke mobilnya, namun wanita itu kembali memanggilnya.

“Boleh bertanya satu hal lagi?”

“Ne? ada apa?”

Wanita gempal itu tersenyum riang. “Apa kalian ini artis?” tanyanya polos.

Chanyang tersenyum, bingung harus menjawab apa.

“Ne,” jawab Chanyang sambil menggaruk kepalanya salah tingkah.

“Ah benarkan sudah kuduga, hmm boleh tidak aku minta tanda tanganmu? Untuk cucuku,” Wanita itu mengeluarkan kertas dan bolpennya.

Chanyang menggoreskan tanda tangan tangannya di kertas itu.

“Terima Kasih ya! Sering-seringlah datang kesini!” teriak bibi itu ketika Chanyang telah berhasil memasukkan Minchul ke dalam mobil. Chanyang tersenyum dan melambai padanya.

Wanita itu nada bicaranya sangat berbeda dari yang di telepon tadi, apa dia terdiri dari dua orang? Chanyang terkikik membayangkannya.

Oh iya aku mau membawa hyung kemana?

Tidak mungkin ke apartemenku.

Kalau dia sadar dia pasti marah padaku.

Aku juga tidak bisa menyalahkan ahjumma itu, dia mana tahu. Dia pasti asal memilih kontak, pikir Chanyang di sepanjang jalan.

Ah aku tahu! Yunhwa hyung!

Chanyang segera menuju rumah Yunhwa, sebelum Minchul sadar, ia harus tiba di sana.

 

***

 

‘TING TONG….TING TONG…’

Chanyang memencet bel berkali-kali, berharap dengan was-was agar Yunhwa belum tidur. Tak berapa lama pintu terbuka.

“Chanyang-ah, ada apa malam-malam datang kesini?” Yunhwa menatapnya bengong.

“Eh bukannya itu mobil Minchul hyung? Kau kesini mengendarai itu? Dimana Minchul hyung?” Yunhwa memberikan pertanyaan bertubi-tubi.

“Ada di dalam mobil, bantu aku membopongnya masuk hyung, nanti akan aku ceritakan semuanya.” ujar Chanyang ngos-ngosan. Keringat dingin telah membanjiri wajahnya.

Yunhwa membuka pintu mobil dan terkejut mendapati Minchul tidak sadarkan diri karena pengaruh alcohol. Merekapun membaringkannya di kasur Yunhwa dengan susah payah, dan menyelimutinya.

Chanyang kemudian duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tv. Tak berapa lama Yunhwa datang membawa 2 gelas kopi hangat.

“Terima kasih hyung,” Chanyang menyambutnya dan meminumnya setengah. “Tak ku sangka Minchul hyung berat juga, hahaha…” komentar Chanyang.

Yunhwa menatapnya serius. Chanyang langsung melenyapakan senyum palsunya dan mulai bercerita.

“Tadi aku mendapat telepon hyung dari pemilik kedai. Dia bilang aku harus segera membawanya pergi karena kedainya mau tutup. Aku sangat terkejut karena Minchul hyung menelponku. Aku hampir berpikiran yang tidak-tidak, eh ternyata yang meneleponku adalah bibi pemilik kedai yang memakai handphone Minchul hyung. Aku sedikit kecewa karena ternyata bukan Minchul hyung yang meneleponku. Aku juga takut kalau Minchul hyung kenapa-napa, tapi syukurlah dia hanya mabuk karena tak kuat minum. Dia tidak sadar saat aku tiba di sana, jadi kupikir untuk membawanya saja ke sini. Kau tidak keberatan kan hyung?”

Yunhwa menghela nafas. “Tentu saja tidak, tapi kenapa kau tidak membawanya ke apartemenmu saja? Kalau tadi aku sudah tidur bagaimana?”

Chanyang terdiam sesaat.

“Kau tahu sendiri hyung, dia membenciku. Kalau dia bangun dan melihatku, apa yang akan dia katakan nantinya?” Chanyang menunduk tersenyum pahit.

“Aku mengerti… tapi mau sampai kapan kalian seperti ini? Saling menghindar? Padahal jelas-jelas saling peduli. Kenapa tidak mencoba berbaikan saja sih?” cecar Yunhwa.

Chanyang kembali terdiam, ia menghembuskan nafas perlahan.

“Mungkin belum saatnya saja hyung. Aku yakin semuanya akan kembali seperti semula.”

Yun Hwa  menatap Chanyang miris. “Kenapa kau bisa begitu yakin?” tanya Yunhwa.

“Karena aku tahu Minchul hyung masih peduli padaku, masih menyimpan nomer handphoneku. Kalau tidak mana mungkin bibi pemilik kedai itu bisa menelponku, hyung. Masalah ini memang bukan sepenuhnya salahku, juga bukan sepenuhnya salah Minchul hyung. Tapi karena aku juga berbuat salah di sini, tidak semudah itu aku bisa memaafkan diriku sendiri, kalau Minchul hyung mau memaafkanku aku mungkin bisa menganggap masalah ini selesai. Sebenarnya kami hanya tidak saling mengerti satu sama lain. Kesalah pahaman kecil ini ternyata telah menjadi masalah besar sampai melibatkanmu yang tidak ada hubungannya hyung. Aku berjanji akan memperbaiki sikapku meskipun Minchul hyung tidak akan memberiku kesempatan sekalipun, karena ini juga untuk kebaikanku.”

“Aku sangat mengerti bagaimana  perasaanmu Chanyang-ah, dan aku percaya semuanya bisa kembali seperti semula. Sama seperti aku mempercayai kalian berdua. Sekarang menurutmu hanya masalah waktu kan?” sahut Yunhwa tulus.

Chanyang mengangguk.

Hening sesaat. Hanya suara dari televisi yang memenuhi ruang tamu Yunhwa. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Yunhwa memainkan handphonenya sebentar. Tiba-tiba Chanyang bangkit dari duduknya.

“Ah, aku harus pulang hyung. Aku baru ingat sudah meninggalkan anak-anak di kantor.”

“E….Kau punya project baru?” tanya Yunhwa.

“Hehe….Iya mereka baru saja debut seminggu yang lalu,” Chanyang terkekeh malu.

“Ah, aku jadi penasaran ingin mendengar hasil karyamu, kau hebat sekarang Chanyang-ah.” puji Yunhwa menepuk-nepuk punggung Chanyang.

Chanyang mengangguk. “Terima kasih hyung, nanti kalau ada waktu aku pasti mengenalkan mereka padamu. kalau begitu aku pulang dulu.” pamit Chanyang.

Selepas kepergian Chanyang, Yunhwa duduk di sofanya lagi. Mengamati handphonenya sambil tersenyum.

“Semuanya akan berakhir malam ini. yeah…” gumamnya pelan.

 

***

 

Seberkas sinar menerpa wajah Minchul, membuatnya menyipitkan mata dan bangkit dari tidurnya. Minchul mengejapkan matanya berkali-kali, dan menyadari ia tidak berada di apartemennya atau di Soundbirds sekarang.

Lantas ada dimana?

Minchul mengamati ke sekeliling tempat itu, sebuah kamar sederhana dengan dekorasi putih di sekitarnya.

“Astaga!!! Apa aku sudah mati?” Minchul bertanya-tanya.

Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, berusaha bangkit namun kepalanya berdenyut terasa pusing. Ia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi semalam. Apa mungkin ia mabuk, kemudian menyetir mobil ugal-ugalan, tidak sengaja menabrak pohon dan nyawanya tak tertolong? Berarti sekarang ia…….

Anio! Tidak mungkin! Minchul langsung menepis pikiran gilanya itu.

Minchul tidak sengaja menoleh ke arah meja nakas di sampingnya, ada sebuah foto kecil di sana, foto keluarga kecil yang terlihat bahagia. Di sampingnya terdapat foto lagi, kali ini ia terkejut karena salah satu orang yang ada di foto itu adalah dirinya, dan ia sangat mengenal ke lima orang lainnya dalam foto itu. Minchul masih menebak-nebak siapa pemilik kamar yang sedang ia tempati ini. Sampai matanya tertuju pada foto ke 3, foto seorang wanita yang ia kenal.

“Bukankah ini Narsha-ssi? Terakhir aku bertemunya di sukira waktu jadi DJ disana. Astaga!!! Apa sekarang aku berada di kamarnya? AAAA….. aku malu sekali….” teriak Minchul aegyo menggigit ujung selimutnya gemas.

Tapi mana mungkin? Kemarin aku lihat di TV, Brown Eyed Girls lagi syuting MV baru mereka di New York! Tidak! Tidak mungkin Narsha!

Minchul tiba-tiba ingat seseorang yang sangat tergila-gila pada Narsha.

Astagaaaaaaaa ini pasti Yun Hwa! (-_-“)

Anak itu saking tergila-gilanya pada gadis ini, sampai-sampai memajang fotonya di kamar. Tapi kasian ditolak mentah-mentah. Hahaha… Minchul ketawa setan.

Eh, ada air putih. Yunhwa baik banget sih, pasti nyediain buat aku deh. Minchul meneguk air putih yang berada di atas meja itu.

“Segarnyaaaa… tapi aku jadi sedikit mual,” Minchul meletakkan gelasnya di tempat semula. Matanya tidak sengaja menangkap sebuah surat yang sepertinya di selipkan Yunhwa untuknya. Minchul segera meraihnya dan membacanya, ternyata di dalamnya terdapat Handphone Yunhwa juga.

 

‘Hyunggggg….. tadaaaaaa… sekarang kau ada di kamarku ^__^ Kau pasti kagetkan kenapa ada di sini? Hahaha aku pergi ke pasar, untuk membeli bahan makanan. Kita mau berkunjung ke tempat Jun-ah kan hari ini?? Oh iya tadi malam aku iseng-iseng bikin lagu loh, dengerin deh di HP ku. Komen tentang laguku setelah aku datang ya’

Begitu kira-kira pesan Yunhwa. Minchul jadi penasaran lagu seperti apa yang Yunhwa buat. Ia menggapai Handphonenya dan menyetel satu daftar rekaman. Sayup mulai terdengar suara dua orang yang sedang berbicara. Minchul mengira dia salah pilih folder, namun tiba-tiba ia mendengar namanya disebut kedua orang yang sedang berbicara di rekaman itu dan ia menyadari kedua orang pemilik suara itu.

Yun Hwa dan Chan Yang?!!

Minchul mendengar setiap kata yang di ucapkan Chanyang.

Begitu rekaman habis, Minchul terdiam. Ia tertegun sesaat. Ada perasaan bersalah menelusup dalam hatinya. Mendengar pernyataan Chanyang pada Yunhwa membuatnya terlihat seperti orang yang sangat egois. Apalagi saat ia tahu yang membawanya ke apartemen Yunhwa adalah Chanyang. Hanya karena Chanyang tau dia membencinya, dia membawanya ke sini, dan bukan ke apartemennya??

Minchul terdiam tidak melanjutkan pikirannya lagi, karena hanya akan membuatnya semakin merasa…….

 

***

 

“Hyunggg….. aku pulangggg….” teriak Yunhwa yang langsung berlari ke arah dapur, meletakkan seabrek belanjaannya di sana.

Yunhwa berlari ke kamarnya, menemukan Minchul di sana yang telah berpakaian rapi bersiap hendak pergi. Yunhwa melongo. “Hyung… kau mau ke mana?”

Minchul menoleh. “Mau pulang, aku ada sedikit urusan,” jawab Minchul cuek.

“Aigo….. Jangan pulang dulu, kau tidak mau ikut ke tempat Jun-ah? Kita berangkat jam 10. Apa kau tidak mau ikut?” jelas Yunhwa.

“Aku tahu kau mengajakku supaya bisa memasakan makanan untukmu dan Jun-ah kan?” tebak Minchul. Yunhwa yang sudah ketahuan maksudnya langsung nyengir tiga jari.

“Apa mereka ikut?” tanya Minchul lagi.

“Mereka siapa?” jawab Yunhwa innocent.

“Han Bi, Baenim  dan Chanyang! Siapa lagi memangnya? Dasar kau ini…”

“Ah mereka, mereka ikut. Kecuali err…. Chanyang,” Yunhwa memutar bola matanya ke kiri, pertanda ia berbohong. Ia takut kalau Minchul marah karena mendengar rekamannya itu, marah karena ia terlalu ikut campur dalam masalah mereka, marah kalau tahu ia akan bertemu Chanyang lagi.

“Soalnya dia sibuk sama project barunya,” kata Yunhwa tanpa ditanya.

“Oh,” Minchul bergumam singkat.

“Jadi kau ikut kan?”

Minchul mengangguk, sedangkan Yunhwa terdiam kecewa. Ternyata usahanya tidak membuahkan hasil, Minchul masih saja menghindari Chanyang.

Yunhwa tiba-tiba merasa tidak berguna. Yunhwa berniat tidak mengungkit masalah rekaman itu juga penyebab kenapa Minchul bisa ada di rumahnya pagi ini. Yunhwa rasa itu tidak ada gunanya, toh pasti Minchul juga tidak mau tahu. Ia sadar Minchul terlalu keras untuk dilunakkan.

 

***

 

Akhirnya Bae dan Hanbi yang sudah janjian sebelumnya sampai di rumah Yunhwa. Mereka semua berniat berangkat bersama. Mereka baru saja akan berangkat saat tiba-tiba Chanyang datang. Bae, Hanbi dan Yunhwa seketika saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak tahu harus berkata atau berbuat apa karena mereka tahu Minchul akan marah melihat kedatangan Chanyang. Tapi tak disangka Minchul malah menyambut kedatangan Chanyang dengan senang hati. Yunhwa sedikit terkejut, ia pikir Minchul akan marah ketika Chanyang datang tanpa sepengetahuannya seperti kemarin. Ishh Yunhwa menyesal kenapa tadi ia malah berbohong dan mengatakan Chanyang tidak datang.

“Chanyang-ah  kemana saja kau? Kita sudah hampir berangkat, ayo  cepat naik!” ujar Minchul sambil memberi isyarat kepada Chanyang untuk segera naik ke mobil. Chanyang yang juga tidak mengira akan perubahan sikap Minchul pun sempat bingung sesaat, tapi melihat Minchul yang menyuruhnya untuk bergegas, akhirnya dia pun naik meski dengan pikiran yang masih menggantung.

Di dalam mobil, Bae, Hanbi dan Yunhwa cengar-cengir melihat perubahan sikap Minchul. Mereka tampak senang, sedang Chanyang masih terpaku dalam diam, kikuk, tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Minchul.

“Ya… kenapa kau diam saja? Apa kau lapar? Ini makanlah.” Minchul mencoba mencairkan suasana sambil melempar sebuah apel ke arah Chanyang yang ada di sampingnya. Dia tahu kalau Chanyang paling sering makan selain Yunhwa.

“Ahhh kau bisa saja Hyung! Tapi terima kasih,” kini Chanyang menyunggingkan seulas senyum khasnya sambil menunjuk apel yang tengah dibawanya.

Sementara Chanyang dan Minchul tengah asik reunian, tiga orang lainnya tengah saling berbisik satu sama lain.

“Hei Hyung… ini pasti kerjaanmu kan?” Hanbi menyenggol pelan bahu Yunhwa.

“Apa yang sudah kau lakukan? Sampai kepala batu seperti Minchul itu bisa berubah?” kini giliran Bae yang menimpali.

“Ya Ya…. Sudahlah kalian tidak perlu tahu yang penting aku berhasil kan?” Yunhwa cengengesan penuh kebanggaan.

“Hahh… lihatlah hyung, dia mulai berlagak,” kini gantian Bae yang dia senggol. Hanbi uring-uringan melihat  kelakuan Yunhwa yang sudah mulai rahasiaan-rahasiaan seperti ini. Bae hanya terkekeh kecil melihat kelakuan dua anak asuhnya yang kekanakan ini.

Akhirnya Minchul, Bae, Yunhwa, Hanbi dan Chanyang bisa bertemu dengan Jun. Mereka hanya memilki waktu berkunjung selama 30 menit.

“Ya…. Kau tampak kurus. Apa kau berlatih terlalu keras di sini?” Yunhwa memandangi tiap inchi tubuh Jun sesaat setelah  ia memeluk saudara yang telah lama tak ditemuinya itu.

“Ayolahh… kau terlalu berlebihan. Kau tahu wamil tidak seburuk itu, bukan? Ini pasti hanya karena sudah terlalu lama kau tak melihatku. Bukankah aku tampak semakin tampan dengan seragam ini?” Jun mengakhiri kalimat panjangnya dengan kekehan panjang, mencoba membuat Yunhwa berhenti mengkhawatirkannya secara berlebihan.

“Dasar kau! Masih saja suka menggoda anak ceking ini.” Minchul tiba-tiba saja menjitak kepala Jun.

“Ya! Siapa yang kau bilang ceking, hyung? Kau tidak lihat otot-otot yang menonjol di lenganku ini? Sekarang aku bahkan tampak lebih sexy darimu.” Kali ini Yunhwa benar-benar membuat semua orang yang ada di situ terbahak. Bukan hanya karena kata-kata yang baru saja diucapkannya tapi juga karena tingkah konyolnya yang memamerkan otot-otot tubuhnya kepada Minchul.

Meskipun reuni mereka dengan Jun harus berakhir dalam 30 menit, mereka sangat menikmati kebersamaan singkat itu. Kebersamaan yang rasanya sudah lama bahkan terlalu lama tak lagi mereka rasakan lagi sejak T-max ‘bubar’. Lebih dari itu, hal yang membuat mereka senang adalah Jun akan mengambil libur selama 3 hari besok. Jadi mereka masih punya waktu untuk melanjutkan kegilaan bersama ini.

 

***

 

Matahari baru saja beranjak dari peraduannya saat Yunhwa bangun. Dia memang sengaja bangun lebih pagi karena dia tahu Jun akan datang pagi ini. Jun bilang dia akan menginap di rumah Yunhwa selama dia mengambil libur 3 hari.

“Pagi Hyung!!”

“Hanbi-ya. Kau datang lebih pagi dari yang kuduga.”

“Aku sedang tidak ada kerjaan hyung, jadi daripada aku nganggur lebih baik aku ke sini. Ngomong-ngomong jam berapa Jun hyung akan datang?”

“Entahlah… harusnya dia sudah sampai sekarang.”

“Kalian menungguku?” Yunhwa dan Hanbi seketika menoleh ke arah pintu. Di sana Jun sudah berdiri tegak.

“Kau ini mengagetkan kami saja. Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?” kini Yunhwa sok ngambek.

“Masih haruskah mengetuk pintu untuk masuk rumah sendiri?” Jun semakin menjadi. Inilah hal yang paling disukainya, mengganggu Yunhwa.

“Hei hei…. Jangan bertengkar di sini, kalian tidak lihat ada anak di bawah umur?” Hanbi menunjuk kearah dirinya sendiri membuat Yunhwa benar-benar gregetan dan menjitaknya.

“Apakah selalu seperti ini nasib maknae sepertiku?”

“Terima sajalah DongIl-ah… Aku dulu juga sering mengalaminya. Menjadi bulan-bulanan makhluk bernama Minchul.” Yunhwa menyelipkan senyum jail di akhir kalimatnya.

“Dengarkan tuh maknae senior,” Jun ikut-ikutan menggurui Hanbi.

Ting tong….. bel berbunyi sebelum Hanbi sempat melancarkan aksi protesnya lagi.

“Ahh itu pasti Bae, Chanyang, dan Minchul hyung. Biar aku yang bukakan pintu.” Ujar Yunhwa sembari menghampiri pintu depan.

“Ke mana saja kalian? Kalian telat, dia sudah datang. Mana Minchul Hyung?” Yunhwa langsung nyerocos saat baru saja membukakan pintu, bahkan sebelum Bae dan Chanyang sempat mengucapkan salam.

“Dia bilang dia sedang ada urusan di Soundbirds. Dia minta maaf dan titip salam untuk Jun.” ujar Bae.

“Sudahlah ayo semuanya masuk. Ada hal penting yang ingin aku katakan. Aku yakin ini akan jadi berita gembira untuk kalian….” Semua perhatian langsung tertuju pada Hanbi. Semua duduk di sofa ruang tengah dengan wajah penuh penasaran.

“Emm… aku dan management sudah menyiapkan sebuah surprise untuk tanggal 19 nanti. Anniversary T-max…”

“Surprise??” Chanyang bereaksi paling cepat dari rekan-rekannya.

“Ne. Kita, T-Max akan meluncurkan single album digital tepat di anniversary kita sebagai tanda comebacknya T-Max juga untuk menunjukkan kepada dunia bahwa T-MAX masih ada.”

“Jadi…” Jun mencoba menyela.

“Hyung aku belum selesai.” Hanbi kembali menyela sebelum Jun menyelesaikan kalimatnya. “Untuk keperluan itulah, Wookyung hyung sudah menyiapkan 3 buah lagu baru untuk single album digital kita dan lagu Confess dengan aransemen baruku.”

“Kau serius dengan ini semua? Kenapa aku sama sekali tidak tahu soal ini?” Bae angkat bicara.

“Aku dan management memang sudah sepakat untuk merahasiakan ini. Kami ingin ini jadi surprise sekaligus kado yang terindah bagi kita semua. Sekarang semua masalah sudah selesai. Minchul dan Chanyang hyung sudah berbaikan. So it’s time to Rocks guys!!!!” Hanbi mengucapkan kalimat terakhir dengan setengah berteriak. Dia tampak sangat antusias dan bahagia.

Tiba-tiba Yunhwa mengendus beberapa kali, sontak semua yang ada di sana menoleh heran ke arahnya.

“Ada apa hyung?” tanya Hanbi.

“Hanbi-ya, apa kau mencium bau-bau tidak sedap?” tanya Yunhwa sambil terus mengendus-endus mencari tahu asal muasal bau yang tidak sengaja diciumnya. Bau gosong seperti…….

“ARGGGHHHH…….” pekik Yunhwa.

“Ya! Kenapa lagi?” tanya Jun semakin heran.

“Aku baru ingat, tadi sebelum kalian datang ke sini aku masak sup. Dan sepertinya……..”

Yunhwa menatap mereka satu persatu dengan tatapan takut, seakan mengerti dengan maksud Yunhwa mereka semua kompak berteriak.

“AAAAAAAAAAAAA………..” dan kemudian berlarian ke dapur Yunhwa.

 

***

 

Chanyang baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa saat tiba-tiba handphone nya berdering. Dia kaget melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Shin Minchul Hyung?” gumamnya. Chanyang sempat ragu, tapi akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya.

“Ne hyung, waeyo?”

“Chanyang-ah kau di mana sekarang?”

“Di apartemen. Aku baru saja pulang dari rumah Yunhwa hyung.”

“Apa kita bisa bertemu sekarang? Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Ucapan Minchul membuat Chanyang kaget. Dia menebak-nebak apa yang sebenarnya ingin dia katakan sampai minta bertemu malam-malam begini.

“Baiklah. Hyung di mana sekarang?”

“Aku masih di Soundbirds sekarang. Kau mau ketemuan di mana?”

“Ahhh biar aku ke Soundbirds saja hyung, sekalian aku ingin melihat labelmu itu.”

“Baiklah. Aku tunggu di sini.”

Flipp. Chanyang menutup telponnya dan segera beranjak menuju mobilnya yang terparkir di luar. Sepanjang perjalanan ke Soundbirds Chanyang tampak gelisah. Ini kali pertama Minchul mengajaknya bertemu berdua sejak T-Max vakum. Meski kemarin saat akan menjenguk Jun, Minchul sudah sedikit melunak tapi masalah diantara mereka belum benar-benar selesai. Chanyang merasa Minchul terdengar berbeda saat di telpon tadi. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang ingin segera dia selesaikan setelah sekian lama. Chanyang pikir ini pasti ada kaitannya dengan masalahnya dengan Minchul akhir-akhir ini.

Tak berapa lama menyusuri jalanan kota Seoul, Chanyang akhirnya sampai di Soundbirds. Ini pertama kalinya dia ke sini sejak Soundbirds resmi didirikan oleh Minchul. Dari semua anggota T-Max, hanya dialah yang belum pernah ke sini karena saat itu dia sudah terlibat konflik dengan Minchul.

“Chanyang-ah! Ayo masuklah.” Suara Minchul segera membangunkannya dari pikirannya yang mulai mengelana.

Chanyang hanya mengekor di belakang Minchul menyusuri gedung berlantai 2 itu. Chanyang  terus saja mengelilingkan pandangannya ke tempat yang sering dia dengar. Dia dan Minchul pun naik ke lantai 2 dimana terdapat sebuah studio yang sering digunakan Minchul. Ruangan itu cukup luas, ada dua buah sofa berukuran sedang tidak jauh dari pintu masuk.

“Chanyang-ah duduklah. Kau mau minum apa?”

“Ahh tidak usah hyung, aku tidak haus. Kau duduk saja, bukankah kau bilang ada yang ingin kau katakan padaku?”

Minchul pun menurut. Dia mengambil tempat tepat di depan Chanyang. Hanya ada sebuah meja kecil yang memisahkan mereka.

“Chanyang-ah……” Minchul menghentikan kalimatnya sejenak, mencoba mencari kata yang tepat untuk memulai.

“Aku tahu hubungan kita akhir-akhir ini tidak terlalu baik. Kita bahkan tidak saling  bicara. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku pikir persaudaraan kita terlalu berharga untuk di akhiri hanya gara-gara salah paham atau hal-hal sepele lainnya. Sebelumnya aku mau berterima kasih padamu, karena kau sudah menolongku saat aku mabuk waktu itu. Dan….Aku minta maaf.”  Minchul menghela nafas panjang.

“Ya.. aku sungguh-sungguh minta maaf. Apapun yang telah terjadi di antara kita akhir-akhir ini, biarkan itu menjadi pelajaran untuk kita. Semua salah paham itu harusnya bisa segera diselesaikan jika aku tidak menghiraukan gengsiku. Aku sungguh minta maaf Chanyang-ah.”

“Hyung, kau minta maaf seolah-olah hanya kau yang bersalah dalam hal ini. Aku juga minta maaf hyung, mungkin selama ini aku sering membuatmu kesal dan marah. Aku minta maaf atas sikap-sikapku yang membuatmu tidak suka, yang kadang sulit diatur atau keras kepala. Sungguh, aku juga minta maaf dari lubuk hatiku yang terdalam. Tapi ngomong-ngomong dari mana kau tau aku yang menolongmu waktu itu? Apa Yunhwa hyung yang bilang?”

“Isshh tanpa dia bilang padaku pun aku sudah tahu, karena aku sangat mengenalmu Chanyang-ah… Dasar kau nappeun namja! Haha…” lirih Minchul sembari memukul pelan bahu Chanyang kemudian memeluknya. Memeluk dengan penuh kerinduan kepada seorang adik, teman dan saudara yang dikasihinya. Begitu pun Chanyang, memeluk Minchul dengan keharuan. Seakan beban yang selama ini mengganjal terangkat seketika. Terasa lega…, sangat lega. Akhirnya kebekuan antara ia dan Minchul itu pun telah mencair.

“Yeeee…………” tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah pintu. Ternyata Hanbi, Yunhwa, Jun, dan tentu saja manager terhebat mereka, Bae. Tanpa komando mereka semua pun ikut menghambur dalam pelukan Minchul dan Chanyang.

“Bagaimana kalian bisa ada di sini?” tanya Minchul setelah mereka melepaskan pelukan.

“Tadi Wookyung hyung menelponku, dia bilang kalau dia mendengar kau menyuruh Chanyang datang ke Soundbirds. Karena takut terjadi sesuatu, makanya kami cepat-cepat ke sini. Tapi syukurlah semuanya baik-baik saja dan semua masalah antara kalian sudah clear. Hmm…dan ini saatnya membicarakan tentang rencana kita…” ujar Jun kemudian.

Minchul yang belum mengetahui tentang rencana management pun tampak bingung. Hanbi pun akhirnya menjelaskan  tentang rencana management yang ingin membuat single album digital untuk merayakan anniversary T-Max dan menandai comeback nya T-Max.

“Jinjja??! Kalian tidak sedang bercanda kan?” Mnchul  tidak bisa menutupi keterkejutannya tapi tentu saja kebahagiaan tampak jelas di wajahnya.

“Ini sungguhan hyung. Kita berlima akan segera recording untuk 3 lagu baru yang sudah disiapkan Wookyung hyung dan lagu Confess yang telah diaransemen oleh Hanbi.” Akhirnya Yunhwa ikut buka suara.

“Maknae-ya kau sudah bekerja keras. Gamsahamnida!”

“Ne leader-nim. Ini semua juga berkat bantuan tim management dan Wookyung hyung.” Hanbi tampak lega dan gembira karena akhirnya rencananya berjalan lancar. Mereka semua pun akhirnya menghabiskan malam di Soundbirds dan merayakan kembalinya T-Max.

 

***

 

Sehari sebelum konser launching single album digital T-Max

Minchul, Yunhwa, Hanbi dan Chanyang semakin giat berlatih untuk konser launching besok. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk Mightymax yang selalu setia mendukung mereka walau T-Max sempat ‘bubar’. Konser besok akan minus Kim Jun yang masih harus menyelesaikan masa wajib militernya. Dia tidak mendapatkan libur untuk menghadiri launching besok.

1 2 3 4 5 6 7 8…..

Minchul memberi komando teman-temannya saat berlatih dance. Yunhwa mendapat sedikit masalah untuk hal satu ini. Yunhwa yang memang tidak terlalu jago dalam hal dance. Ia masih belum bisa menguasai beberapa gerakan terlebih selama menjalani wajib militer dia tidak pernah berlatih dance lagi, dia merasa semakin mendapat kesulitan.

“Hyung kita coba lagi. Ayo semangat. Fighting!”  Hanbi berusaha memberi semangat kepada Yunhwa yang masih suka melakukan kesalahan. Yunhwa hanya menganguk.

“Mulai. 1 2 3 4 5 6 7 8.. 1 2 3 4 5 6….” Minchul kembali mengomandoi latihan dance kali ini. Dan lagi-lagi Yunhwa melakukan kesalahan. Namun mereka semua dengan sabar mengajarkan bagian-bagian yang kurang tepat kepada satu sama lain dan saling bahu-membahu berlatih bersama-sama untuk menampilkan yang maximum dari diri mereka masing-masing. Mereka begitu bersemangat. Ini semua karena mereka ingin mempersembahkan yang terbaik untuk para MightyMax. Mereka ingin menebus kerinduan MightyMax yang selalu setia mendukung dan menunggu mereka.

 

***

 

Hari bersejarah itupun akhirnya tiba. Tanggal 19 Juli, anniversary T-Max sekaligus launching single album digital yang menandai comebacknya T-Max. MightyMax sudah memadati tempat berlangsungnya acara sejak sore hari meski acara baru  akan dimulai jam 8 malam. Mereka membawa poster-poster bergambar wajah para personel T-Max atau poster-poster bertuliskan “We Love T-Max”, “We Miss You”, dan sebagainya.

Konser pun akhirnya dimulai. Minchul menjadi personel pertama muncul dan seketika diikuti riuhan suara Mightymax yang mengelu-elukan namanya.

Gobaekhamnida my love my love geudaeneun naege neol ……..

Minchul menyairkan sebait lagu Confess ciptaannya. Hanbi, Chanyang dan Yunhwa pun kemudian muncul bersama-sama  dan meneruskan lagu itu dan membuat riuh para Mightymax semakin bergaung. Konser malam itupun berlangsung meriah dan sukses meski terasa kurang lengkap karena belum bisa bergabungnya Kim Jun dengan empat orang lainnya. Tapi MightyMax boleh berlega hati karena sekembalinya Jun dari wajib militer dia akan langsung bergabung kembali bersama T-Max.

 

***

 

Setahun kemudian,

 

T-MAX TOUR CONCERT “CONFESSION”

 

Sebuah papan reklame besar terpampang di salah satu sudut kota Tokyo dengan gambar lima orang pria yang mungkin tak asing bagi orang-orang di sana. Ya…. T-Max tengah melakukan konser tour dalam  rangka mempromosikan album terbaru mereka. Album kali ini terasa sangat special karena ini adalah album pertama dengan formasi lengkap 5 personel.

“Setelah semua yang telah kami lalui selama ini, akhirnya kami bisa merilis album ‘Confession’ ini. Setelah kami sempat vakum beberapa tahun, akhirnya kami bisa kembali kehadapan kalian semua dengan membawa sebuah album baru yang kami buat dengan penuh rasa cinta. Kami begitu gembira, bangga dan mungkin juga lega. Tidak mudah bagi kami untuk mencapai titik ini. Tapi syukurlah, berkat dukungan MightyMax yang tak pernah surut kami berhasil melalui semua proses sulit dan tetap berdiri tegak sebagai T-Max. Album ini terutama kami dedikasikan untuk semua MightyMax di seluruh dunia. Terima kasih MightyMax, we love you so much very much too much….” ujar Minchul dalam konferensi pers sebelum konser dimulai.

Semua kilasan masa lalu seakan berkejaran dibenaknya. Proses panjang yang telah mereka lalui sebelum mencapai hari ini. Mulai dari debutnya di T-Max bersama Yunhwa dan Jun yang kemudian menjadi sangat booming karena lagu Paradise. Kebersamaan yang harus berakhir karena Yunhwa menjalani wajib militer dan digantikan oleh Chanyang dan Hanbi. Mundurnya Jun juga karena kewajibannya menjalani wajib militer, berakhirnya kontrak Minchul bersama T-Max, hengkangnya Chanyang dari T-Max hingga akhirnya T-Max sempat vakum. Semua kesedihan dan kegagalan itu seakan terhapus dengan kembalinya T-Max dengan formasi lengkap saat ini.

Setelah Jepang mereka akan melanjutkan rangkaian konser tur mereka ke negara-negara Asia lainnya dan beberapa Negara di Eropa. Semua pengorbanan dan perjuangan memang akan selalu memberikan hasil yang indah pada akhirnya. Dan kini Minchul, Jun, Yunhwa, Chanyang dan Hanbi bisa merasakannya.

 

 

***THE END ***

Park’s Brothers In Action -Part 1- (by : Michulsworld)

SPECIAL 5TH ANNIVERSARY

PART 1

TITLE:

Park’s Brothers in Action

CAST:

ALL T-MAX MEMBER + MANAGER BAE KYUNG SOO

GENRE:

FRIENDSHIP

BY:

MINCHULSWORLD

            “Aaah~” Yunhwa meregangkan sendi-sendinya. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu ini tiba juga. Ia kemudian mengangkat kembali tas yang ia taruh tadi saat meregangkan badannya dan kembali berjalan menuju gerbang military camp. Sesaat sebelum ia melangkah keluar, ia berbalik ke belakang dan memberikan hormat selama 10 detik. Memori indahnya bersama kawan-kawan militernya terputar beberapa saat.

Di luar keadaan cukup ramai. Banyak gadis yang memanggil-manggil namanya sambil mengarahkan lensa kamera mereka ke arahnya. Senyum di wajahnya tidak luntur sambil mengucapkan “annyeong” dan “kamsahamnida”. Tapi matanya tak kunjung fokus. Ia terus membuang pandangan kesana kemari di antara kerumunan itu.

“Hyung… kau di mana?” gumamnya. Sudah 10 menit ia mencari hyung kesayangannya itu, tapi batang hidungnya tak nampak  juga.

Kerumunan ini tak kunjung berkurang. Mereka menunggu hingga ada yang menjemput Yunhwa. Wajah Yunhwa menjadi sedikit gelisah. Ia terus memandangi arlojinya. Tiba-tiba beberapa gadis mendekatinya. “Oppa, kau sedang menunggu dijemput?” tanya seorang dari mereka. Yunhwa tersenyum sambil mengangguk.

“Siapa? Minchul oppa? Oh ya, di mana dia? Mengapa dia belum datang? Padahal dia yang membuat event untuk menjemputmu di camp.” kata seorang yang lain.

Yunhwa hanya tersenyum simpul kepada mereka. “Hyung……kau membuat event penyambutanku tapi kau tak ada??! Kau bilang akan menunggu dari sejam sebelum aku keluar…. HYUUUNG…!!” katanya dalam hati.

Ia lalu merogoh kantong dan mengecek ponselnya, berharap ada kabar dari hyungnya. Dan ternyata…, tidak ada. Ia menghela napas panjang.

“Oppa, mau kami antar ke tempatmu?” Yunhwa tersadar ia masih dikelilingi oleh gadis-gadis itu. Ia tersenyum sungkan. “Tidak usah,” jawabnya sopan.

“Tak apa, oppa. Tak usah sungkan dengan kami.” ujar gadis yang mencari Minchul tadi.

Yunhwa menggeleng sopan. “Tidak usah, terima kasih. Aku naik taksi saja. Minchul hyung ternyata sangat sibuk hari ini, jadi ia tak bisa datang kemari. Terima kasih untuk kebaikan kalian. Aku pulang dulu ya. Kalian hati-hati di jalan…” Ia kemudian melambai ke arah kerumunan lalu berjalan ke pinggir jalan dan menyetop sebuah taksi.

“Huufff… hyung….” keluhnya sambil bersandar ke jok taksi.

 

***

 

“Siang semuanya….” kata Minchul yang menjatuhkan dirinya ke sofa di studio Soundbirds.

“Siang apanya?” jawab Wookyung sambil melihat arlojinya. “Ini sudah sore, bahkan malam nyaris tiba. Dari mana saja kau?”

Minchul mengusap-usap lehernya. “Aku lelah sekali….”

“Tadi kau menjemput Yunhwa? Aah~ aku harus menyempatkan diri untuk mentraktirnya makan sebagai permohonan maafku karena tak pernah bertemu dengannya jika ia libur.”

Wajah Minchul sedikit bingung. “Yunhwa? Menjemput??”

“Kau lupa? Hari ini dia keluar dari campnya.”

“Aaaaa…” pekik Minchul. “Aku benar-benar lupa. Aku…aku pergi dulu.” Ia bergegas menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung.

Ia mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang menuju rumah Yunhwa. Sesampainya di depan pintu rumahnya, ia mengatur napas kemudian menekan bel.

Yunhwapun membuka pintu.

“YUNHWAAA…” teriak Minchul sembari memeluk tubuh mungil Yunhwa. “Selamat kau telah menyelesaikan wajib militermu!”

Yunhwa melepaskan pelukan Minchul. “Ya, aku sudah selesai wamil.”

“Bagaimana keadaanmu? Sepertinya kau baik-baik saja… Sekarang kau sudah menjadi laki-laki sejati! HAHAHAHA…Selamat! Selamat!” Minchul kembali memeluk Yunhwa, kali ini sembari menepuk-nepuk punggungnya.

Yunhwa kembali melepaskan pelukan Minchul dan melangkah mundur. “Hyung…” Ia menatap serius. “Ya, aku baik-baik saja. Dari dulu aku baik-baik saja. Bahkan tadi saat aku menunggu kedatanganmu di depan gerbang dan akhirnya aku harus pulang sendiri pun aku masih merasa baik-baik saja.” Ia langsung melangkah masuk meninggalkan Minchul yang masih terpaku di depan pintu.

“Yunhwa-ya…,” panggil Minchul. “Kau marah denganku?” Minchul mengikuti langkah Yunhwa.

“Tidak.” jawabnya seraya membuang mukanya ketika Minchul mencoba melihat ekspresi wajahnya.

“Maaf… Aku baru tidur di apartemen pagi tadi dan a…”

Yunhwa memotong, “Aku tahu kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu hyung.” Nadanya terdengar agak ketus.

“Yunhwa-ya….” Minchul memanggil dengan nada memelas. “Ayo kita pergi malam ini. Aku yang traktir!”

“Tidak, aku malas keluar.” Yunhwa segera menolaknya. “Aku lelah, aku ingin bersantai saja di rumah malam ini.”

Minchul terdiam. Ia memutar otak mencari penawaran supaya Yunhwa berhenti ngambek dengannya. Sudah beberapa kali ia mengajukan penawarannya, namun Yunhwa selalu berkata tidak mau. Malah sekarang ia menyalakan tv dan membiarkan Minchul tetap terpaku berdiri memikirkan penawaran lainnya supaya ia setuju.

“Aaah…” teriak Minchul yang mulai kesal. “Baiklah…, sekarang terserah kau saja. Kau mau apa, akan aku turuti.”

Yunhwa teringat dengan cerita Bae bahwa Minchul dan Chanyang tengah berselisih paham. Ia pikir inilah saat yang tepat untuk mulai mendamaikan mereka. “Aku ingin…kita pergi makan dengan Chanyang.”

Minchul langsung terbelalak. “Apa??! Kenapa harus dengan anak itu?!”

“Memangnya kenapa? Kau ada masalah dengannya?” Yunhwa memasang tampang innocent.

Minchul hanya diam. Tapi ritme napasnya lebih cepat dari sebelumnya sehingga pundaknya naik turun.

“Aku akan menelepon Chanya…”

“Tidak usah!” bentak Minchul. “Aku tak bisa memenuhi keinginanmu yang satu ini.”

Yunhwa berdiri. “Hyung, jika kau punya masalah, cobalah kau selesaikan. Kau hanya perlu duduk bersama dengannya dan membicarakannya, mencari jalan keluarnya.”

“Kau tak perlu ikut campur dengan masalahku!” Nadanya makin meninggi.

“Apa kau pikir aku bisa duduk diam mengetahui rekan setimku  sedang berselisih?! Kalian bukan hanya teman, kalian sudah seperti keluargaku sendiri….” Nada bicara Yunhwa seperti ia bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan.

Minchul meredakan sedikit emosinya. “Kau tak mengerti Yunhwa…”

“Ya, aku tak mengerti dengan kalian berdua! Apakah tak ada masalah yang bisa dibicarakan baik-baik?”

“Dia berbeda denganmu! Dia berbeda dengan Jun! Sungguh sangat berbeda masa-masa yang kualami ketika kita masih bertiga jika dibandingkan ketika T-Max berempat tanpa kehadiranmu….”

“Bukankah bagus karena kalian memiliki member yang lebih banyak?” Yunhwa mencoba menarik salah satu sudut bibirnya.

“Memang lebih ramai… Tapi apakah kau tahan jika membermu sulit diatur?! Bisakah kau merasakan…aku sangat lelah…. Sebagai leader aku harus bisa membimbing dan mengatur member agar sesuai dengan apa yang seharusnya. Management menuntutku agar aku bisa memenuhi target, sedangkan aku harus membimbing anak keras kepala yang sulit diatur itu. Jika dia sudah ada maunya, susah sekali mengubah pendiriannya. Dasar kepala batu!” Minchul mengeluh kesal.

“Keras kepala… punya idealis tinggi… Bukankah itu sepertimu hyung? Dia itu duplikatmu….” Yunhwa tersenyum lebar.

“Kau memang tak mengerti…” Minchul menghela napasnya.

“Ya, aku memang tak mengerti masalah macam apa yang membuat kalian berdua jadi seperti ini. Kalian sudah mengenal karakter masing-masing, harusnya kalian sudah saling memahami satu sama lain dan mencari jalan keluar dari perselisihan kalian bersama-sama…”

“Berhentilah mengguruiku.” Minchul membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu depan. “Sudahlah…, aku ingin mencari udara segar.”

Hari sudah larut malam. Minchul mengemudikan mobilnya tak tahu harus pergi ke mana. Pikirannya tak fokus, seperti jiwanya tak berada di dalam tubuhnya sendiri. Setelah berputar-putar selama 30 menit, akhirnya ia memarkirkan mobilnya di dekat pasar barang antik. Ia berharap dapat menjernihkan pikirannya di sana.

Dan memang perasaannya mulai membaik setelah berkeliling, walaupun ia harus sendirian. Apalagi setelah menemukan pedangang yang menjual piringan hitam Marilyn Monroe, ia sudah bisa tersenyum lebar sambil menawar ke pedagang itu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.

Minchul menoleh ke belakang. Sontak ia berteriak, “Baenim!”

“Bagaimana kabarmu?” tanya Bae sambil merangkulnya.

“Tak begitu baik…ngg tapi sekarang sudah membaik.” Minchul tersenyum.

“Kita sudah lama tak mengobrol… Ayo kita ke café di ujung sana.” Bae melirik tangan Minchul yang masih memegang piringan hitam. “Mmm tapi sebaiknya kau selesaikan dulu urusanmu.”

Setelah tawar menawar selesai dan Minchul sudah medapatkan piringan hitam itu, mereka pergi ke café yang dimaksud oleh Bae. Mereka saling bertukar cerita tentang kejadian selama setahun ini. Minchul begitu terbelalak ketika mendengar Bae sudah memiliki seorang anak.

“Seorang laki-laki, baru berumur 4 bulan. Istriku minta dibelikan porselen Cina, jadi aku datang kemari.” tandasnya. “Lalu apa yang membawamu kemari?”

Minchul kemudian bercerita panjang lebar tentang kejadian hari ini. Ia pun mengungkapkan tentang Yunhwa yang menyinggung-nyinggung masalahnya dengan Chanyang dan justru menyuruhnya untuk segera berbaikan dengan Chanyang.

“Dari mana anak itu tahu tentang masalahku dengan Chanyang?” tanya Minchul lalu segera menoleh tajam ke arah Bae. “Kau ya yang memberitahunya?”

“Tidak,” jawab Bae cepat.

Minchul menghela napas seakan tak mempedulikan jawaban Bae. “Lalu aku harus bagaimana?” Minchul menatap dalam ke meja kosong yang ada di seberang mereka.

“Sebaiknya… kau berbaikan dengannya. Tidak baik membiarkan masalah ini menggantung berkepanjangan. Ini bukan hanya masalah antara kau dengan Chanyang. Sekarang saja teman segrupmu sudah mencampurinya. Manajemenpun mengusahakan jalan yang mereka bisa untuk kalian berdua. Belum lagi fans kalian. Bagaimana perasaan mereka jika tahu idolanya sedang bersitegang? Kau tahu sendiri MightyMax seperti mata-mata professional. Apakah kalian pernah memikirkan perasaan orang-orang di sekitar kalian???”

 

***

Minchul tiba di apartemennya dengan tatapan kosong. Kata-kata Bae terus terngiang-ngiang di kepalanya. “….Apakah kalian pernah memikirkan perasaan orang-orang di sekitar kalian? …..Bagaimana perasaan mereka jika tahu idolanya sedang bersitegang?” Orang-orang disekitar? Mighty Max? Apakah mereka tahu? Apa mereka juga merasakan aura permusuhan kami? Bagaimana jika mereka sampai tahu dengan masalah ini? Mereka sudah cukup kecewa dengan penundaan album dan masa vakum kami. Belum lagi berbagai pemberitaan di media massa tentang kabar bahwa kami membubarkan diri. Apakah aku tega membuat mereka kembali bersedih karena masalah ini?

Ia bersandar di sofa sambil menarik napas panjang. Tak sengaja tangannya menyentuh remote tv. Ia pun menyalakan tv dan memutuskan untuk menonton, mencari hiburan. Tapi tak satu pun acara yang dianggapnya menarik. Ia hanya menggonta-ganti channel sampai akhirnya ia melihat iklan Hanbi di tv.

“Waaah Hanbi-ya! Kau sudah punya iklan sendiri!” sahut Minchul. Ia memperhatikan dengan seksama hingga iklan itu selesai. Di dalam hati ia terus berdecak kagum atas keberhasilan maknaenya ini yang kariernya terus menanjak. Ia pun memutuskan untuk meneleponnya.

“Yoboseyo.., hyung-ah.” suara berat Hanbi terdengar begitu ceria.

“Yoboseyo Hanbi-ya…” Minchul membalas sapaannya. “Selamat kau sekarang begitu sukses! Aku baru saja melihat iklanmu di tv. Wow, kau pemeran utama ya di iklan itu?”

“Iya, hyung.” Hanbi menjawab malu. “Menurutmu bagaimana?”

“Kau keren sekali di situ! Hahaha…”

Hanbi tersipu-sipu. “Benarkah? Umm… Bagaimana pipiku? Apakah masih terlihat chubby? Aku tetap imut dan makin tampan kan?”

“Aissh… Kau ini masih saja narsis.”

“Hahaha… Aku hanya bercanda. Ada apa kau meneleponku malam-malam begini?”

“Aku hanya ingin mengobrol denganmu.” jawab Minchul datar.

“Benar hanya itu?”

Minchul berdehem mengiyakan.

“Jujur saja… Kau rindu denganku kan hyung?” Hanbi langsung tertawa.

“Apa kau bilang?” Minchul meninggikan suaranya. “Oh ya tentu saja. Aku rindu membullymu. Jika bertemu nanti, aku akan menawanmu dan membawamu ke apartemenku untuk membersihkan kamar mandi.” Kini Minchul yang tertawa puas sedangkan Hanbi hanya melengus.

“Ngomong-ngomong, akhir pekan ini aku berencana pergi ke rumah Yunhwa hyung. Kau datang ya?” pinta Hanbi.

“Ada apa kau tiba-tiba ingin ke sana?” tanya Minchul dengan wajah yang enggan untuk membahasnya.

“Aku sudah lama tak bertemu dengannya, apalagi kan hari ia baru saja keluar dari camp. Aku tak bisa menjemputnya hari ini, jadi sekalian saja kita buat pesta untuknya.”

“Sepertinya aku sibuk.” Minchul mencoba menolak, walaupun ia sebenarnya memiliki waktu kosong.

“Ayolah hyung…. Aku sengaja mengosongkan jadwalku hanya untuk ini,” Hanbi memelas.

“Aku tidak bisa….”

“Anggaplah ini hanya sekedar waktu untuk makan bersama, hanya sebentar…”

“Tidak bisa…”

“Setelah makan, kau bisa kembali ke studio untuk bekerja…”

“Tidak…”

“Baenim juga akan datang…” Hanbi tetap mencoba membujuknya.

“Bae? Tadi dia tak mengatakan apapun tentang hal ini…” Minchul bergumam.

“Kau tadi bertemu dengannya?” Hanbi malah jadi penasaran dengan gumaman Minchul.

“Ya, tadi kami bertemu dan mengobrol sebentar.”

“Tuh kan cuma sebentar….” sahut Hanbi tiba-tiba dengan suara yang keras. “Jadi nanti kau harus datang ya hyung, supaya kita bisa mengobrol lebih lama….. Aku sangat rindu dengan kalian….” Nada suaranya berubah menjadi sendu.

“Hey Hanbi…. kau tidak menangis kan?” Hanbi tak menjawab apapun. “Eungg… baiklah aku akan datang. Tapi hanya sebentar ya.” Minchul akhirnya luluh juga dengan rayuan Hanbi.

“BENARKAH??” Hanbi kembali ceria. “Baiklah, aku tunggu hari Minggu besok di rumah Yunhwa hyung. Annyeong!”

Biiip.. Hanbi langsung mematikan sambungan telepon.

“Dasar maknae tak sopan…. Beraninya dia mematikan terlebih dulu sebelum aku berbicara lagi…” ujar Minchul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Di tempat lain, Hanbi tersenyum sumringah. Ia segera mencari nomor Chanyang dan meneleponnya.

“Yoboseyo..” jawab Chanyang dengan suara yang terdengar cukup lelah.

“Hyung… Kau masih di studio?” tanya Hanbi.

“Ya…, ada apa?”

“Kau perlu refreshing, hyung!” Hanbi memulai promosinya. “Kau tahu kan aku sedang syuting drama saat ini?”

“Hmmm…” Chanyang mengiyakan.

“Aku sengaja mengosongkan jadwalku akhir pekan ini hanya demi kalian….” Hanbi mulai memelas.

“Apa maksudmu?”

“Hari Minggu kau harus datang ke rumah Yunhwa hyung! Kita akan buat pesta penyambutan untuknya….” Hanbi memaksa Chanyang.

“Oh iya, hari ini ia baru menyelesaikan wamilnya kan?” Chanyang menepuk dahinya.

“Iya. Karena itu kita harus membuatkannya pesta. Nanti manager kesayangan kita juga akan datang….”

“Benarkah? Waaah…” Chanyang berdecak senang. “Tapi Hanbi…, maaf aku sangat sibuk.”

“Hanya sebentar hyung…. Tak bisakah kau pergi sebentar hanya untuk makan bersama kami?”

Chanyang diam. Ia menimbang-nimbang sambil memainkan bibirnya. “Baiklah, tapi aku tidak janji.”

“Aku tahu kau pasti datang. Sampai jumpa….”

 

***

 

Minchul sedikit enggan untuk menuju ke rumah Yunhwa karena kejadian tempo hari. Ia merasa keadaan pasti akan canggung. Namun inilah saat yang sudah lama ia nantikan, berkumpul bersama dengan ‘keluarga’nya. Ia berharap keadaan nantinya akan lebih baik dari yang ia bayangkan.

Sesampainya di depan pintu, Hanbi lah yang membukakan pintu. Ternyata Bae sudah berada di dalam. Hanbi membawakan segelas jus dan sepotong kue untuk Minchul. Ia yang nampak paling senang hari itu. “Hyung, ini makanan pembuka untukmu. Aku membawa wine, tapi untuk nanti.” Hanbi tersenyum sumringah.

“Hanbi-ya, sebenarnya kau atau Yunhwa tuan rumahnya?” tanya Minchul dengan wajah meledek. Kemudian pandangannya bertemu beberapa detik dengan Yunhwa, terasa seperti ada kecanggungan antara mereka berdua. Namun akhirnya rasa canggung itu sirna juga.

“Kenalkan hyung, ini kepala rumah tanggaku yang baru.” kata Yunhwa sambil menepuk pundak Hanbi.

“Aissh hyung…” ucap Hanbi yang disambut tawa mereka bertiga.

 

——-

 

Chanyang masih saja asik me-mixing lagu di studio. Ia terbelalak ketika melihat jam tangannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

From: Han Bi

Hyung, kau ada di mana?

 

Ah…, aku akan benar-benar telat, ujarnya.

 

To: Han Bi

Aku akan segera ke sana…

 

Tanpa banyak bicara, Chanyang langsung menuju ke rumah Yunhwa. Di depan pintu rumah Yunhwa, ia mengatur napasnya. Jantungnya berdebar-debar, terasa janggal. Namun ia tak menggubrisnya. Hanbi pun membukakan pintu. “Ayo hyung, silakan masuk.” ujarnya.

Begitu sampai di dalam, ia sangat terkejut melihat Minchul yang tengah duduk di ruang tengah dan mengobrol dengan Bae. Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa saat. Tak lama Minchul melayangkan pandangan ke arahnya. Ia pun tak kalah terkejutnya dengan Chanyang. Ekspresi wajahnya langsung berubah.

“Ayo hyung masuk ke dalam,” ajak Hanbi. Chanyangpun mengekor.

Sesampainya di ruang tengah, Minchul membuang pandangannya ke bawah. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya, kemudian ia berdiri.

“Mmm… Maaf. Aku harus kembali ke studio.” kata Minchul.

“Cepat sekali kau kembali. Makanan utamanya saja belum kau lihat.” tandas Hanbi.

“Maaf aku buru-buru.” Minchul bergegas keluar.

Hanbi berusaha mengejar Minchul dengan sedikit berlari agar menyamakan jarak di antara mereka. Minchul tampak tidak menghiraukan maknaenya itu. Sesekali ia mendengar Hanbi berteriak memanggilnya.

“Minchul hyung tunggu!!” susah payah Hanbi berlari kencang dan berteriak dalam waktu bersamaan. Minchul yang tidak tega melihatnya berbalik juga.

“Ada apalagi?” sahut Minchul.

Hanbi mengatur nafas perlahan.

“Kenapa pulang begitu cepat sih hyung? Kita jarang-jarang loh bisa ngumpul-ngumpul begini, apa pekerjaanmu lebih penting daripada kami?”

“Babo! Tentu saja! Kau pikir aku pengangguran yang punya banyak waktu luang untuk bersenang-senang!? Aku sibuk Hanbi-ya.” jawab Minchul cuek sambil membuka pintu mobilnya.

Hanbi melengos, kesal. Minchul meletakkan raybannya terlebih dahulu ke dalam mobil, kemudian kembali berbalik karena tidak mendapat respon dari Hanbi.

Maknaenya itu masih berdiri melongo di samping mobilnya. Rupanya satu bentakan tak lantas membuat anak ini membiarkanku pergi, pikir Minchul.

“Tunggu apalagi?? Cepat pergi sana atau kau akan disangka orang bodoh berdiri sendirian disini.” ucap Minchul sedikit berteriak.

“Kenapa sih hyung, kau harus menghindar?” tanya Hanbi tiba-tiba, membuat minchul kaget. Ada apa lagi dengan anak ini? Apa mau cari mati denganku?

 

——-

 

Yunhwa dan Bae menatap Chanyang tanpa berkedip.

”Aku sedang tidak suka berbasa-basi Chanyang-ah, aku sudah tahu semuanya dari Hanbi. Aku hanya ingin mendengar dari mulutmu sendiri masalah yang sebenarnya. Aku kenal baik bagaimana Minchul. Dia tidak seperti ini kalau masalah ini tidak begitu serius.” Yunhwa memulai percakapan.

Bae mengangguk mengiyakan. Namun Chanyang tetap diam tak bergeming.

Sekarang pandangan Yunhwa tertuju pada Bae. “Kau pasti tahu tentang ini kan?”

“Eung….Ya, sejak meeting terakhir bersama manajemen waktu itu. Kupikir masalah ini sudah selesai, tapi ternyata kalian……..”

“Sudahlah hyung! Aku capek terus-terusan ditanyai tentang masalah ini. Tidak ada habisnya. Untuk apa sih mengungkit yang sudah-sudah. Tidak ada gunanya sama sekali.” ujar Chanyang memotong ucapan Bae. Ia lantas pergi ke dapur, entah untuk apa. Yunhwa dan Bae hanya dapat menatapnya, frustasi.

 

——-

 

“Menghindar apa? Aku tidak menghin…….”

“Kau tidak seperti Minchul hyung yang kukenal”, potong Hanbi. Minchul mendelik.

“Minchul hyung yang kukenal tidak pernah menghindari masalah, ia justru menantangnya meski harus membuat orang-orang di sekitarnya kesal karena dia tidak pernah berhenti berteriak, dan tidak pernah berhenti mencari solusinya sebelum semuanya kembali seperti semula.” Hanbi menatap Minchul tajam.

Minchul bersidekap kesal. “Hanbi kau………”

“Apa sih hyung masalah sebenarnya? Sampai kau harus menghindar seperti ini? Kau pikir aku tidak tahu kalian ada masalah? Jangan kekanakan seperti ini hyung!” Hanbi tetap mengabaikan perkataan Minchul.

“SIAPA YANG MENGHINDAR!!?? SIAPA YANG KEKANAKAN???!!!!” kini Minchul benar-benar berteriak. Tak kuat menahan emosinya.

“Lalu kalau bukan menghindar apa namanya!!?? Pergi secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Pokoknya aku tidak mau tahu hyung, masalah kalian harus selesai sebelum anniversary T-MAX!” sahut Hanbi tanpa sadar, Minchul membuang muka, kemudian menoleh kaget.

“Eh apa katamu? Anniversary? Memangnya apa hubungannya dengan itu?” tanya Minchul mulai curiga.

Hanbi mendadak ingat akan janjinya pada manajemen untuk merahasiakan hal itu dulu. Ah kenapa aku bisa keceplosan sih, Hanbi mengutuk dirinya sendiri karena begitu bodoh.

“Ah tidak….tidak hyung memang tidak ada hubungannya! Maksudku tidak baik kan kalau di saat bahagia seperti itu saling bermusuhan.” Hanbi buru-buru meralat ucapannya.

“Maka dari itu hyung, kalian harus berbaikan sebelum masalah ini berlarut-larut semakin jauh. Bukankah dulu kau sendiri yang pernah bilang padaku seperti itu?”

“Cih.. kenapa kau senang sekali sih ikut campur!!? Terserah lah apa katamu, dasar bocah!”

Minchul lalu masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan kencang, meninggalkan Hanbi yang berdiri mematung menatap kepergiannya.

Hanbi menghela nafas lagi sambil memukul-mukul pelan kepalanya. “HanBi kau bodoh, kenapa sampai keceplosan sih?” gerutunya pada dirinya sendiri.

 

***

Minchul menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mengekspresikan kemarahannya. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Bisa dibilang ia sedang galau tingkat akut. Tempo hari Yunhwa dan Bae yang memaksanya menyelesaikan masalah dan berdamai dengan Chanyang. Sekarang Hanbi si bocah ingusan itu juga ikut-ikutan.

Apa mereka bersekongkol?

Tapi kenapa mereka hanya memaksaku?

Memangnya aku seorang yang bermasalah?

Dan si gigi kelinci itu tidak? Tsk….. tidak ada seorangpun rupanya yang berada di pihakku.

Beribu pertanyaan semacam itu menyerang pikiran Minchul.

Minchul akhirnya memarkirkan mobilnya di sebuah kedai ‘minuman’ di pesisir Myeongdong dan memesan beberapa botol soju.

Disaat seperti ini apalagi yang bisa dilakukan?

 

***

 

“Teman macam apa mereka!!!?? Dasar bodoh!!!” erang Minchul sambil memukul-mukul meja dengan keras.

Wajahnya terlihat memerah setelah hampir 1 jam minum-minum di tempat itu. MinChul terkulai lemas tak berdaya, wajahnya menelungkup di atas meja. Seseorang menggoyang punggungnya perlahan, berusaha membangunkannya.

“Tuan… cepat bangun!! Kedai kami sudah mau tutup!”

Minchul mengangkat kepalanya perlahan. Bau alcohol megoar dari mulutnya.

“Ng…baiklah aku akan segera per…….”

‘BRUKKKKKKKKKKKKKK’

Minchul terjatuh tidak sadarkan diri di lantai. Kepalanya terasa benar-benar pusing. Ia memang tidak kuat minum banyak dari dulu.

“Aigo~~ pria ini benar-benar merepotkan!” teriak ahjumma si pemilik kedai.

Tanpa sengaja ia melihat handphone Minchul tergeletak di lantai, mungkin ikut terjatuh tadi. Ia pun segera memungutnya.

“Ah bodohnya aku! Kenapa tidak menelepon seseorang untuk menjemputnya saja…” gumam wanita paruh baya itu.

Buru-buru ia mencari nomer telepon di handphone Minchul. “Omo~~!” wanita itu berlonjak kaget begitu membuka handphone Minchul.

“Apa pria ini artis? Aihh……pantas saja aku merasa pernah melihatnya sebelumnya. Ishh….jinjja….”

 

 

-TBC-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 600 other followers